Dipengaruhi Faktor Eksternal, Harga Minyak Dunia Per Liter (Barel) Berfluktuasi

harga, minyak, dunia, per, liter, barel, indonesia, inflasi, juli, 2018, 2017, batas, atas, bahan, bbm, solar, non-subsidi, maksimal, Rp 2.500, APBN, tahun, pemerintah, kesepakatan, OPEC, negara, pajakIlustrasi kilang minyak mentah

Kenaikan dunia di tahun 2018 sebelumnya telah diprediksi sejak 2017. Salah satu pemicu utamanya adalah kesepakatan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) mengenai produksi dunia yang dipangkas sebesar 1,8 juta barel (1 barel = sekitar 159 liter) per hari (bph). Kebijakan ini dianggap ampuh untuk mendongkrak minyak dunia pada tahun 2017 hingga lebih dari US$50 per barel. Angka itu terbilang meningkat dari tahun 2016 yang secara rata-rata berada di bawah US$50 per barel.

Selain kebijakan OPEC, kenaikan harga minyak dunia juga disebabkan karena proyeksi kenaikan permintaan minyak seiring dengan perbaikan perekonomian . Akibatnya, harga minyak dunia menembus level US$60 per barel.

Sementara itu di Indonesia, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 mengasumsikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada pada level US$48 per barel. Angka itu lebih rendah dibanding rerata ICP November 2017 yang sebesar US$59,34 per barel.

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak dunia akan membawa pengaruh terhadap Indonesia. Menurutnya, setiap US$1 kenaikan harga minyak dunia per barel di atas asumsi APBN, dompet negara bakal bertambah Rp 700 miliar. Pendapatan itu bersumber dari penerimaan pajak maupun non pajak yang disumbang oleh kegiatan di sektor migas.

Seperti yang telah diprediksi pada tahun 2017, kenaikan harga minyak mentah dunia benar-benar terjadi di tahun 2018. Pada Januari 2018, harganya naik. Tetapi, kenaikan harga minyak tidak lantas membawa harga bahan bakar atau BBM pada saat itu naik juga. PT Pertamina (Persero) menghormati keputusan yang menetapkan harga BBM PSO (Public Service Obligations) tidak berubah sepanjang Januari hingga Maret 2018, meskipun keuangan perseroan berpotensi terganggu.

“Harga sepanjang Januari, Februari, dan Maret 2018 kan sudah diputuskan. Jadi, kami mematuhi keputusan pemerintah,” kata Direktur Pemasaran Pertamina Iskandar.

harga, minyak, dunia, per, liter, barel, indonesia, inflasi, juli, 2018, 2017, batas, atas, bahan, bbm, solar, non-subsidi, maksimal, Rp 2.500, APBN, tahun, pemerintah, kesepakatan, OPEC, negara, pajak

minyak lepas pantai (sumber: .id)

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi VII DPR, Rofi Munawar menegaskan agar pemerintah jangan terlena fluktuasi harga minyak dunia. “Selama ini, pemerintah terlena dengan rendahnya harga minyak dunia,” ujarnya.

Menurutnya, tren produksi lifting minyak nasional terus turun. Di sisi lain, konsumsi publik terhadap minyak terus meningkat. Peringatan potensi kenaikan harga minyak dunia yang dipengaruhi kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga terus terdengar.

Artinya, sudah seharusnya pemerintah merumuskan formula dan strategi yang tepat untuk mengendalikan harga. “Kenaikan harga BBM nonsubsidi menunjukkan lemahnya instrumen yang dimiliki, serta ketiadaan terobosan yang baik dalam membendung liberalisasi dalam sektor migas,” imbuh Rofi.

Baru-baru ini sekitar awal Juli 2018, pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan inflasi Juli 2018 sebesar 0,28 persen. Dalam hal ini, sub-kelompok bahan bakar memiliki andil inflasi sebesar 0,06 persen. “Kenaikan harga bensin ini menyumbang inflasi sebesar 0,6 persen,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto.

Diketahui, harga Pertamax di Jakarta per 1 Juli 2018 menjadi Rp 9.500 naik Rp 600 dari Rp 8.900. Sementara harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp 10.700 pada 1 Juli 2018 dari harga sebelumnya yaitu Rp 10.100. Adapun harga Dexlite naik menjadi Rp 9.000 per liter naik Rp 900 dari Rp 8.100 per liter. Lalu, untuk Pertamina Dex juga naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 10.500.

Di sisi lain, harga solar non-subsidi, Pertalite, dan Pertamax Racing tidak berubah. Masing-masing harganya adalah Rp 7.700 untuk solar non-subsidi, Rp 7.800 untuk Pertalite, dan Rp 42.000 untuk Pertamax Racing. Suhariyanto mengatakan bahwa angka inflasi Juli 2018 masih terkendali.

harga, minyak, dunia, per, liter, barel, indonesia, inflasi, juli, 2018, 2017, batas, atas, bahan, bbm, solar, non-subsidi, maksimal, Rp 2.500, APBN, tahun, pemerintah, kesepakatan, OPEC, negara, pajak

Penjualan bahan bakar di SPBU Pertamina (sumber: sindonews.com)

Meski begitu, ada sejumlah yang harus menjadi perhatian yaitu bahan makanan dan bahan bakar. Terlebih, bahan bakar sangat dipengaruhi faktor eksternal sehingga berakibat pada fluktuasi harga minyak dunia. “Masih ada bayang-bayang kenaikan harga minyak dan beberapa . Tapi inflasi 0,28 persen lumayan bagus dan sesuai dengan harapan,” tambah Suhariyanto.

Sementara itu, Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyastuti memastikan bahwa kinerja keuangan perusahaan akan positif di tengah kenaikan harga minyak mentah dan lesunya perekonomian global. Hal itu karena masih mendapat dukungan penuh pemerintah.

Nicke mengatakan bahwa kinerja keuangan Pertamina masih dalam tren positif. Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan mencetak keuntungan Rp 90 triliun, meski harga minyak mengalami kenaikan dan perekonomian global sedang lesu. “Kondisi keuangan yang kuat ini memberikan retained earning bagi perseroan, sehingga memberikan tambahan modal untuk investasi,” kata Nicke.

Selain kondisi fundamental keuangan perseroan yang positif, menurut Nicke, Pertamina terus mendapatkan dukungan dari pemerintah antara lain melalui pemberian subsidi dan blok minyak dan gas (migas) baru untuk mendorong pendapatan di bisnis hulu.

Untuk subsidi, Nicke menegaskan bahwa secara prinsip, pemerintah telah menyetujui pemberian subsidi jenis solar naik menjadi Rp 2 ribu per liter atau naik empat kali lipat dari sebelumnya Rp 500 per liter. Pemberian subsidi itu untuk menutupi kenaikan biaya produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat lonjakan harga minyak dunia.

Pemerintah membuka peluang untuk mengerek besaran subsidi solar maksimal hingga Rp 2.500 per liter dalam dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019. “Kami usul ada batas atas (ceiling), misalnya Rp 2.500 per liter,” ujar Menteri Energi, dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan.

Loading...