Dinilai Tinggi, Biaya Produksi Tebu Per Hektar Kurang Lebih Rp 20 Jutaan

jumlah, biaya, produksi, untuk, 80, ton, per, kilo, hektar, hektare, rendemen, ukuran, nominal, ditambah, pajak, 10%, keuntungan, petani, tebu, pupuk, subsidi, non, meningkat, khusus, distributor, impor(instagram: @pemuda_Jogja)

tebu penghasil mengaku keberatan terhadap rencana pengenaan pertambahan nilai (PPN) sebesar 10%. Alasan mereka adalah PPN 10% dianggap membebani para petani.

“Untuk mengetahui petani itu untung atau rugi itu dilihat dari produktivitasnya. Untuk saat ini produktivitas petani nyaris di bawah 80 ton per hektare dan rendemen di bawah 7%,” kata Ketua DPP Andalan Petani Tebu Rakyat (APTRI), Soemitro Samadikun.

Ia juga mengatakan bahwa produksi yang tinggi harus ditanggung petani saat ini. Jumlah produksi yang harus dikeluarkan oleh petani tebu untuk jumlah produksi sekitar 80 ton per hektare dan rendemen di bawah 7% adalah sekitar Rp 9.500-Rp 10.500 per kilo. Untuk ukuran hektar, bisa mencapai kurang lebih Rp 24.200.000.

Dengan nominal tersebut, apabila masih ditambah dengan pajak 10%, maka dapat mengakibatkan nilai keuntungan petani dari penjualan gula ke pedagang menjadi lebih sedikit. “Berapa petani itu harus untung? Petani itu harus untung paling tidak rendemennya sekitar 10% dengan produktivitas 100 ton per hektare. Mengapa petani tidak bisa mendapatkan produktivitas 100 ton dengan rendemen 10%? Ada masalah di luar kemampuan para petani,” ujar Soemitro Samadikun.

Masalah yang dimaksud oleh Soemitro adalah kerja yang semakin sulit dan rumit didapatkan. Kemudian, masalah varietas bibit unggul. Dan, yang terakhir adalah masalah struktur irigasi.

Sekjen DPN APTRI, Nur Khabsyin mengatakan bahwa pihaknya akan terus memantau agar gula para petani tidak dikenakan PPN. “Setelah ini kami akan mengadakan pertemuan dengan pedagang untuk sosialisasi, menyamakan persepsi dan tidak takut lagi membeli gula tani. Yang terpenting tidak menekan harga gula tani,” ujarnya.

Sementara itu, di kesempatan terpisah, Menteri Badan Usaha Milik (BUMN), Rini M Soemarmo menargetkan untuk produksi tebu di setiap hektare di tahun 2018 akan mencapai lebih dari 100 ton. “Jadi kita harapkan semuanya berjalan dengan tepat waktu, sehingga produksi tebu rakyat per hektare mencapai 100 ton,” ungkapnya

Menurut Rini, di tahun 2017 lalu, produksi tebu per hektare mengalami penurunan, yaitu di bawah 100 ton. Jika dilihat secara nasional, produksi tebu sebesar 2,3 juta ton. Angka tersebut bahkan lebih rendah daripada produksi di tahun 2016. Rendahnya produktivitas dinilai karena meningkatnya konsumsi gula di Indonesia, dan adanya impor gula dari luar negeri.

“Banyak faktor yang menyebabkan itu, yakni sulitnya mendapatkan non . Petani tebu harus pergi ke pabriknya jika ingin mendapatkan non subsidi, saya rasa itu tidak tepat,” jelasnya.

Untuk itu, pihak PT Petrokimia Gresik menyediakan pupuk non subsidi dan akan ditunjuk distributor khusus untuk pupuk non subsidi. Rini berharap dengan ketersediaan pupuk non subsidi, petani tebu akan terbantu sehingga produksi tebu dan rendemen akan meningkat, yaitu menjadi 8, dari tahun sebelumnya yang berjumlah 7,5.

Loading...