Dinilai Menguntungkan, AirAsia Fokus ke Pasar Indonesia dan Filipina

Pesawat AirAsia - www.airlineratings.comPesawat AirAsia - www.airlineratings.com

KUALA LUMPUR – Maskapai bertarif murah asal , AirAsia Group, dikabarkan tidak akan membuka baru untuk jangka waktu tiga tahun ke depan, kecuali rute Vietnam. Sebaliknya, maskapai ini akan fokus untuk melayani rute-rute yang sudah mereka operasikan, termasuk di Indonesia dan Filipina, agar lebih menguntungkan.

“Setelah Vietnam, kami akan fokus pada apa yang sudah kami miliki,” ujar CEO AirAsia Group, Tony Fernandes, seperti dilansir dari Nikkei. “Fokus tahun 2019 ini adalah membuat Indonesia dan Filipina menjadi pasar yang sangat menguntungkan. Sementara, rute India dan Jepang akan menguntungkan pada tahun 2021, dengan pasar seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam akan membantu mendorong .”

Menurut data pada September 2018, AirAsia sudah mengoperasikan 127 terbang ke lebih dari 130 tujuan. Maskapai ini juga telah memesan 100 jet berbadan lebar Airbus A330NEO untuk penerbangan rute jarak jauh. baru-baru ini ‘menegaskan kembali’ niatnya untuk mendirikan maskapai berbiaya rendah di Vietnam dengan mitra lokal Tran Trong Kien.

Meski demikian, sejumlah analis meragukan operasi di Indonesia dan Filipina bakal menguntungkan bagi perusahaan sepanjang tahun ini karena persaingan ketat di kedua negara, di tengah bahan bakar yang sangat fluktuatif. Jika pasar Indonesia mungkin bisa sedikit menguntungkan pada 2019 berkat permintaan yang kuat, namun prospek di Filipina kemungkinan akan tetap merah.

“Dampak dari tabrakan penerbangan Lion Air baru-baru ini dapat membantu mengarahkan lalu lintas ke AirAsia Indonesia,” tutur analis Nomura, Ahmad Maghfur Usman. “Selain itu, adalah mungkin bagi operasi AirAsia India untuk menghasilkan laba pada awal tahun depan, meskipun bisnis mereka di Jepang diprediksi masih tetap lemah sampai akhir 2020.”

Maskapai global telah bergulat dengan input yang berubah-ubah pada tahun 2018 kemarin, karena harga minyak mentah berayun antara kenaikan hampir 30% dan penurunan hingga 23% sebelum mengakhiri tahun di level 66,73 AS per barel. Menurut International Air Transport Association, harga bahan bakar jet rata-rata 86,8 AS per barel untuk 2018.

“Biaya bahan bakar sangat menentukan apakah operasi di Indonesia dan Filipina akan menguntungkan AirAsia,” timpal analis riset TA Securities, Tan Kam Meng. “Di antara risiko yang dihadapi AirAsia adalah rebound harga minyak mentah menjadi 70 per barel. Malaysia tetap menjadi kunci bagi perusahaan. Meski profitabilitas Thailand, Filipina, dan Indonesia menjadi perhatian, itu tidak akan mengubah fokus perusahaan secara signifikan.”

Loading...