Dinilai Membutuhkan Biaya Produksi Cukup Besar, Sinetron Indonesia Bergantung Kepada Rating

biaya, produksi, sinetron, indonesia, film, rumah, penulis, naskah, rating, tinggi, episode, per, hari, stasiun, televisi, sumber, modal, luar, negeri, tanpa, investor, miliar, artis, teknis, total, promosiIlustrasi: proses syuting sinetron (sumber: tabloidbintang.com)

Mungkin beberapa dari sinetron di Indonesia belum pernah memikirkan mengenai produksi sinetron. Mereka mungkin hanya menjadi penikmat tayangan karena memang tayangan tersebut tujuannya sebagai hiburan.

Jika Anda penasaran mengenai berapa besar nominal biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi satu judul sinetron atau program televisi, mungkin tidak ada patokan nominal pasti. Namun, sebagai gambaran, di sebuah stasiun televisi yang terbilang baru, biaya produksi per hari bisa mencapai Rp 3 miliar. Biaya tersebut pastinya termasuk biaya honor atau gaji pemain dan biaya teknis yang cukup beragam bagiannya.

Satu episode sinetron paling tidak membutuhkan sutradara, asisten sutradara, departemen produksi, seksi konsumsi, seksi transportasi, penulis naskah, tim , bagian keamanan, figuran, kameramen, operator slider, editor, bagian pencahayaan (amat dibutuhkan ketika syuting malam hari), koordinator figuran, koordinator talent, figuran, hingga tentu saja para pemeran utama.

Apabila suatu sinetron mendapat rating tinggi, maka pemasukan akan semakin besar. Hal tersebut memicu stasiun televisi akan memproduksi episode tambahan. Untuk proses penulisan naskah, ada batas waktunya, misal 48 jam. “Kalau untuk FTV biasanya deadline jauh lebih longgar,” kata Melvi Yendra, seorang penulis naskah sinetron.

Setelah naskah selesai ditulis, akan diberikan kepada sutradara dan para yang terlibat. Mereka akan membaca. Berlatih. Lalu mulailah proses syuting. Penulis naskah harus mempertimbangkan banyak hal. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pengembangan karakter tertentu.

Walaupun biaya produksi terbilang cukup besar, namun sinetron-sinetron tersebut mendapatkan pemasukan yang besar pula. Hal itu dikarenakan stasiun televisi berpatokan terhadap rating.

“Ini dilematis sih buat pembuat, kru, dan penulis. Sebab, semakin panjang program, asap dapur lebih lama juga bertahannya,” ujar Melvi kembali.

Sementara itu, bagi film, menurut Anggy Umbara, seorang sutradara kenamaan Indonesia menyebutkan bahwa sebagian besar rumah produksi Indonesia belum terbuka seperti di luar negeri. Hal itu termasuk menyebut besarnya biaya produksi dan total keuntungan dari penjualan tiket. Mungkin hanya rumah-rumah produksi besar yang memproduksi film laris saja yang mau mengungkapkan hal tersebut.

Menurut Anggy, kuasa soal biaya produksi film ada di tangan produser. Ada sebuah film yang menghabiskan biaya produksi total sekitar Rp 25 miliar, Rp 10 miliar produksi dan sisanya promosi.

“Di Hollywood sudah buka-bukaan bujet. Di sana ada standar dan aliansi, di sini masih terpecah-pecah. Belum satu suara bergabung. Mungkin pemerintah yang harusnya bisa menyatukan dan menyelesaikan semua detail permasalahan yang ada,” kata Anggy.

Ditanya mengenai hal itu, Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Kemala Atmojo mengatakan bahwa ketidakterbukaan mungkin disebabkan sumber modal pembuatan film.”Kalau rumah produksi luar, ada banyak pihak yang terlibat sebagai pemodal. Sehingga mereka harus mengumumkan berapa biaya produksi. Sedangkan di Indonesia rumah produksi itu biasanya memakai biaya sendiri tanpa ,” ujar Kemala.

Loading...