Dinilai Mahal, Harga Konsentrat Ayam Petelur 124 Dibanderol Rp 242 Ribuan Per 50 Kg

harga, konsentrat, ayam, petelur, 124, pakan, ternak, terbaik, bahan, makanan, mahal, sak, 50 kg, telur, protein, sumber, energi, suplemen, puasa, lebaran, gizi, karbohidrat, serat, pagi, sore, hari, tulungagungIlustrasi: memberi makan konsentrat ayam ternak

Dalam dunia ternak , dikenal dengan istilah konsentrat yang merupakan bahan . Di dalam konsentrat biasanya memiliki kadar kandungan protein dan karbohidrat tinggi serta rendah kadar serat.

Fungsi utama dari konsentrat adalah meningkatkan gizi terbaik dari beragam bahan makanan yang dijadikan satu atau dicampur, pakan menjadi lebih baik, mempercepat pertumbuhan pada ternak usia muda.

Konsentrat pakan ternak sendiri dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu konsentrat sebagai sumber protein dan konsentrat sebagai sumber energi. Dikatakan sebagai sumber energi apabila memiliki kandungan protein kasar kurang dari 20 persen dan serat kasar 18 persen. Sedangkan, konsentrat sebagai sumber protein jika mempunyai kandungan protein lebih besar dari 20 persen.

Untuk ayam petelur, dikenal adanya konsentrat 124. Di pasaran, bahan makanan itu dengan sekitar sekitar Rp 242 ribu per 1 sak (50kg). Tingginya konsentrat membuat ayam telur mengeluh. Seperti yang terjadi di Tulungagung. Harga pakan ayam seperti mencapai Rp 3.700 per kg, konsentrat Rp 353 ribu per sak, dan dedak Rp 2.600 per kg. Belum lagi ditambah dengan suplemen makanan lain yang dibutuhkan untuk perkembangan dan kesehatan ternak.

Sulikah, salah satu peternak ayam petelur di Dusun Ngejring, Desa Pakisaji, Kecamatan Kalidawir mengaku keberatan dengan tingginya harga pakan ternak. “Harga pakan kian tinggi. Hal itu otomatis mengurangi keuntungan sebagai peternak,” ujar Sulikah.

Ia juga merasa kecewa karena tidak adanya perhatian dari Dinas Peternakan terkait subsidi, khususnya pada harga pakan ternak yang kurang stabil. Padahal, tingginya harga pakan nantinya akan berpengaruh terhadap tingginya harga telur.

“Pakan ayam mahal, tapi ternak harus tetap jalan. Untung rugi sudah biasa dialami peternak karena faktor harga pakan yang tidak stabil dan harga telur juga tidak stabil di ,” ujar wanita yang telah menekuni dunia bisnis ternak ayam petelur selama 22 tahun itu.

Sulikah, peternak ayam petelur sekaligus istri anggota DRPD Kabupaten Tulungagung itu mengatakan bahwa setiap hari dirinya dibantu oleh pegawainya dalam memberi makan ayam setiap pagi dan sore hari. Dalam sebulan, Sulikah harus mengeluarkan biaya kurang lebih Rp 4 juta untuk pakan ternak.

Tidak hanya Sulikah, keluhan yang sama juga dilontarkan oleh Takim, ayam petelur lainnya. dengan 3.500 ayam itu mengeluhkan tentang tidak adanya subsidi yang diberikan oleh pemerintah untuk pembelian pakan. Padahal, bantuan sekecil apapun dari pemerintah akan membantu keberlangsungan usahanya.

Namun demikian, Takim dan peternak ayam lainnya memutuskan untuk bertahan di tengah kondisi mahalnya harga pakan ternak. Apalagi, di saat bulan puasa dan menjelang Lebaran 2018, kebutuhan akan telur dinilai akan meningkat drastis. “Perhatian dari dinas terkait juga masih minim. Subsidi untuk pakan ternak sudah tidak ada,” tutup Takim.

Loading...