Dinilai Kurang Orisinal, Google+ Gagal Jadi Pesaing Facebook

Google vs Facebook - by PardotGoogle vs Facebook - by Pardot

Pada 28 Juni 2011 lalu, Google merilis jejaring sosial milik mereka, Google+ atau Google Plus, untuk mengganggu eksistensi Facebook. Namun, alih-alih bersaing dengan sosial bikinan Mark Zuckerberg, Google Plus malah harus menghadapi sosial lain yang sebenarnya memiliki level ‘di bawah’ Facebook, seperti , , dan juga Snapchat.

Sebenarnya, media massa seperti The Times pernah mengatakan bahwa Google Plus adalah upaya terbesar Google untuk cara kerja mesin pencari menyaingi jaringan sosial Facebook yang telah memiliki lebih dari 750 juta pengguna pada tahun 2011. Ada beberapa fitur di Google Plus yang hampir sama dengan Facebook atau LinkedIn, seperti pemberitahuan (notifikasi), pesan yang belum dibaca, dan link ke posting.

Zuckerberg juga pernah mengatakan bahwa Google Plus sebagai ancaman eksistensial yang sebanding dengan tindakan Uni Sovyet kala menempatkan senjata nuklir di Kuba pada tahun 1962. Zuckerberg lantas menerapkan status khusus yang disebut “Lockdown” di kantor. Ini adalah status khusus ketika para pegawai didorong untuk bekerja lebih keras dalam mengatasi suatu kendala, entah yang bersifat teknis atau berupa pesaing seperti dalam kasus Google Plus.

Sayangnya, entah kenapa basis pengguna Google yang begitu masif ternyata tidak mampu mengangkat eksistensi Google Plus. Pengguna sepertinya enggan melirik Google Plus dan lebih setia pada Facebook, Twitter, Instagram, atau bahkan Path, jejaring sosial baru yang sukses menjadi hype di .

Menurut riset Edward Morbis, dengan sekitar 2,2 miliar akun Google Plus yang terdaftar (semua pemilik akun Gmail otomatis terdaftar sebagai pemilik akun layanan Google, termasuk Google Plus), hanya ada sekitar 6 persen yang benar-benar aktif menggunakan Google Plus di sepanjang lalu. “Google tidak punya fokus yang jelas mengenai Google Plus,” beber salah seorang mantan pegawai Google yang enggan disebutkan identitasnya, seperti dikutip Business Insider.

“Google terlalu berusaha menyatukan seluruh konsep jejaring sosial yang ada dan kondisi ini membuat pengguna tidak melihat sesuatu yang benar-benar orisinal dari Google Plus,” sambungnya. “Selain itu, Google tampaknya sudah terlambat memasuki bisnis jejaring sosial.”

Loading...