Dilandasi Islamofobia, Neo-Nazi Makin Berkembang di Jerman & Eropa

Neo-Nazi Makin Berkembang di Jerman & Eropa - www.heute.atNeo-Nazi Makin Berkembang di Jerman & Eropa - www.heute.at

Akhir-akhir ini, isu munculnya neo-Nazi semakin bergema di . sayap kanan dan neo-Nazi tidak hanya ada di Jerman, tetapi di beberapa bagian Benua Biru. Banyak pengamat menganggap bahwa gerakan sayap kanan ini sebagian besar memperoleh kekuatan dari kesalahpahaman mengenai yang sudah lama berlangsung di benua itu, serta kebangkitan populisme.

“Untuk waktu yang lama, kami berpendapat bahwa kebangkitan sayap kanan sangat terkait dengan permusuhan (Eropa) terhadap Islam,” kata Burhan Kesici, seorang politik Jerman-Turki, yang memimpin Dewan Islam Jerman, dilansir TRT World. “Itu terjadi karena agama. Kami memiliki konkret dari 2017, yang telah mendokumentasikan lebih dari seribu insiden. Sebagian besar tindakan kebencian menentang Muslim.”

Dalam menghadapi penguatan neo-Nazi, sayangnya gambaran politik semakin suram dari sebelumnya. Sebagian besar gerakan sayap kanan di seluruh berakar pada Nazisme Jerman yang didirikan oleh Adolf Hitler pada tahun 1920-an. Sembilan puluh tahun kemudian, gerakan neo-Nazi kembali menemukan tanah subur di Jerman. Antara tahun 2000 hingga 2007, kelompok neo-Nazi, National Socialist Underground (NSU), menewaskan 10 orang, delapan di antaranya adalah keturunan Turki-Jerman.

Meskipun banyak kesaksian dan koneksi kuat antara badan-badan intelijen Jerman dan NSU, pengadilan Jerman memberikan hukuman seumur hidup hanya kepada satu terdakwa, membebaskan orang lain yang dilaporkan bekerja untuk aparat intelijen tersebut. Kurang dari dua bulan setelah putusan pengadilan NSU yang lemah, Jerman bagian timur menyaksikan protes anti-migran yang dipimpin oleh kelompok neo-Nazi karena seorang pria Kuba-Jerman diduga dibunuh oleh dua migran dari Irak dan Suriah.

Alternative for Germany (AfD), sebuah partai sayap kanan Jerman, sekarang menjadi kelompok politik terbesar ketiga di parlemen. Bahkan partai Stand Up paling kiri di Jerman, yang bertujuan menyatukan negara yang terbagi untuk mengusir konservatisme Merkel, menganggap apa yang disebut ‘budaya sambutan’ Eropa bagi migran sebagai masalah.

Kebencian anti-imigran pun telah menembus Swedia, sebuah negara tempat liberalisme dianggap berada di jantung pemerintahan. Partai sayap kanan Sweden Democrats (SD) membuat perolehan signifikan dalam pemilihan baru-baru ini. Partai ini sendiri dikatakan dilandasi oleh ideologi neo-Nazi, dan menabur benih kebencian terhadap komunitas imigran adalah salah satu agenda utamanya.

Demikian pula di Perancis, sayap kanan Front Nasional, yang dinamai kembali dengan National Rally oleh pemimpin partai, Marine Le Pen, telah mempertahankan posisi ketiga dalam politik Perancis. Le Pen sebelumnya telah dikenal sering membuat komentar anti-migran dan secara kejam menghina kehadiran Muslim di Eropa. Pada bulan Mei kemarin, ia menjadi tuan rumah bagi para pemimpin gerakan kanan Eropa di Nice, untuk mengembangkan aliansi politik benua.

Italia, negara anggota utama Uni Eropa selain Jerman dan Perancis, juga mengalami kebangkitan populisme sayap kanan. Partai Liga meraih kemenangan tidak terduga dalam pemilihan baru-baru ini, bahkan mengambil kekuasaan di kubu kiri. Pemimpin Partai Liga, Matteo Salvini, terpilih menjadi menteri dalam negeri setelah pemilihan.

Seperti Eropa Barat, gerakan sayap kanan lainnya juga mulai melakukan pengaruh yang kuat di negara-negara Eropa Timur seperti Hongaria, Polandia, dan Slovenia. Hongaria secara luar biasa memilih kembali Viktor Orban sebagai perdana menteri. Dikenal sebagai seorang politikus anti-migran dan Islamofobia, Orban sempat membuat Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap Hongaria karena omelan rasis yang dibuatnya.

“Media Eropa juga memainkan peran besar dalam kebangkitan gerakan sayap kanan. Sebagian besar profesional media berkulit putih, yang sering ingin membahas isu-isu yang berkaitan dengan multikulturalisme, etnis, dan identitas dengan cara yang agresif dan bias,” tutur Cemil Yilmaz, seorang psikolog sosial Belanda-Turki. “Jika Anda melihat kebijakan anti-ekstremisme, Anda akan melihat standar ganda tentang apa yang mereka lakukan terhadap kelompok minoritas dibandingkan dengan (apa yang mereka lakukan]) sayap kanan.”

Loading...