Diklaim Mampu Perlancar Produksi ASI, Harga Daun Katuk Mulai Rp3 Ribuan per Kg

Harga, daun, katuk, manfaat, basah, kering, per, kg, kilogram, dijual, pabrik, budidaya, pebudidaya, melancarkan, ASI, memperlancar, produksi, ibu, menyusui, gizi, mengonsumsi, dikonsumsi, diolah, sayur, bening, zat, galaktogo, susu, almond, suplemen, kebutuhan, pasar, di, pasaran, kandunganTanaman daun katuk (sumber: Pinterest)

Banyak anggapan yang berkembang di masyarakat soal cara meningkatkan produksi susu ibu (ASI), salah satunya dengan mengonsumsi katuk. Selama ini katuk dipercaya dapat memperlancar produksi ASI. Ada yang menganggap hal ini sekadar sugesti dari busui (ibu menyusui) sehingga produksi ASI semakin lancar, tapi ada pula yang percaya bahwa katuk memang berkhasiat meningkatkan produksi ASI.

Menanggapi hal ini, dokter laktasi Fala Adinda membenarkan bahwa daun katuk memiliki manfaat dalam meningkatkan jumlah ASI yang diproduksi. Pasalnya daun katuk mengandung galaktogo, yakni zat yang berperan menambah produksi ASI pada ibu menyusui. “Memang ada zat-zat yang disinyalir meningkatkan produksi ASI yaitu galaktogo,” ujarnya dilansir Suara.com

Selain daun katuk, galaktogo juga ditemukan dalam susu almond dan beberapa pelancar ASI. Meski produksi ASI menjadi lancar, karena beberapa sumber makanan ini, fala mengingatkan agar busui lebih rajin memberikan ASI kepada buah hatinya. “Kalau banyak diproduksi, tapi nggak dikeluarkan ya percuma. Nanti otak akan mengukur seberapa besar kebutuhan ASI yang harus diproduksi berdasarkan jumlah yang dikeluarkan setiap hari,” pungkasnya.

Umumnya, daun katuk dikonsumsi dengan cara diolah menjadi bening. Lantaran banyak sekali kandungan gizinya, permintaan daun katuk pun tinggi di . Tak heran, banyak orang tertarik mengembangkan tanaman ini.

Salah satunya adalah Iwan di Sukabumi yang membudidayakan daun katuk sejak 2010. Menurut Iwan, tanaman katuk sudah banyak dibudidayakan di Indonesia. “Banyak yang tertarik karena pasti menghasilkan,” ujarnya kepada Kontan.

Selain ke , Iwan juga memasok daun katuk kering ke pabrik untuk dijadikan suplemen pelancar ASI. Membudidayakan daun katuk di lahan 1.000 meter persegi (m²), Iwan bisa menghasilkan 6-8 kuintal daun katuk per bulan.

Dengan produksi sebanyak itu, setiap bulan ia rutin memasok daun katuk kering ke pabrik. Sementara daun katuk basah dijual ke pasar. “Katuk kering kirim ke Sidoarjo, Yogyakarta, Semarang, Bogor dan Jakarta. Kalau katuk segar suplai ke pasar lokal,” katanya.

Harga yang dibanderol untuk daun katuk basah Rp3.000-Rp6.500 per kilogram (kg). Sementara daun katuk kering yang dijual ke pabrik dihargai Rp10.000-Rp12.000 per kg. Omzet yang diperolehnya mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta per bulan.

Selain Iwan, pembudidaya lainnya yang juga sukses menekuni budidaya daun katuk adalah Ali Mujaya. Ia mengelola lahan budidaya daun katuk di Tanjung Jaya, Sumatera Selatan sejak 2015. Berbeda dengan Iwan, Ali hanya menjual daun katuk segar ke pasar .
Ali mengaku tidak menjual daun katuk ke perusahaan atau pabrik farmasi karena keterbatasan lahan dan lokasi. Meski tidak memasok pabrik, Ali mengaku peminat daun katuk di daerahnya cukup tinggi. “Kalau di sini sudah tradisinya, begitu melahirkan langsung konsumsi daun katuk,” jelas Ali.

Dalam satu hari, Ali menghasilkan 400 ikat daun katuk untuk langsung dijual ke pengepul seharga Rp1.000 per ikat.  Pengepul kemudian menjual daun ini ke pengecer dengan rentang harga Rp1.500-Rp1.800 per ikat. “Nanti di konsumen bisa Rp2.500 per ikat,” ujarnya.

Loading...