Diklaim Dapat Optimalkan Pemanfaatan Lahan Masam, Harga Pupuk Dolomit Rp150 Ribuan per Sak

Harga, pupuk, Dolomit, Dolomite, per, kg, sak, kilogram, 50, kandang, kimia, produk, lahan, masam, petani, pertanian, budidaya, tanaman, buah, kawasan, konservasi, potensi, manfaat, pH, luas, material, media, tanam, kualitas, bahan, unsur, hara, magnesium, kalsium, tepung, kapur, rumusButiran pupuk dolomit (sumber: peyzax.com)

Dalam , pemupukan merupakan hal penting karena hal ini sangat menentukan keberhasilan , di samping kita harus tahu jenis pupuk dan proses penyerapan pupuk oleh , kita juga harus tahu cara mengaplikasikan pupuk yang benar pada .

Pupuk bisa dikatakan sebagai material yang ditambahkan pada media atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Sementara, Balai Penelitian Tanah mendefinisikan pupuk sebagai suatu bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara atau nutrisi bagi tanaman untuk menopang tumbuh dan berkembangnya tanaman yang bersangkutan.

Salah satu ciri modern adalah pengelolaan pemupukan yang didasarkan pada hasil uji atau analisis tanah. Petani dapat menghitung sendiri kebutuhan pupuk, termasuk kompos atau pupuk untuk meningkatkan produktivitas lahannya berdasarkan hasil uji/analisis tanah. “Oleh karenanya, uji tanah yang paling penting adalah diperolehnya kadar bahan organik tanah aslinya. Dengan begitu dapat dihitung kebutuhan kompos atau pupuk kandangnya,” jelas Prof. Abdul Rauf, Pakar pengelolaan DAS kepada Berita Sore.

Selain pupuk kandang, di dalam membudidayakan tanaman juga dikenal dengan produk pupuk . Beberapa merek pupuk tersebut hadir di pasaran, salah satunya adalah pupuk Dolomit (Dolomite) yang dijual Rp4 ribuan per kilogram dan Rp150 ribuan per sak (50 kg).

Pupuk dolomit merupakan salah satu jenis pupuk yang cukup ramah lingkungan namun memiliki kualitas tinggi. Dolomit merupakan yang di dalamnya terdapat kandungan unsur hara Magnesium serta Kalsium yang berbentuk tepung dan dalam rumus kimia dilambangkan dengan CaMg(CO3)2.

Dosen Universitas Brawijaya Malang, Setyono Yudo Tyasmoro menjelaskan, untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan masam atau lahan baru dibutuhkan teknologi yang sangat memungkinkan untuk pemberian material kesuburan lahan berupa dolomit. “Kebutuhan dolomit pada lahan bukaan baru yang ideal 4 ton/ha. Peningkatan kesuburan tanah tentu akan berbanding lurus dengan peningkatan produksi dan kesejahteraan petani,” ucapnya dilansir Kontan.

Secara umum lahan bukaan baru dari lahan masam dan marginal kondisi tingkat keasaman tanah sekitar pH 4,0-5,0. Sedangkan umumnya tanaman membutuhkan kondisi keasaman yang ideal pada pH 6,0-6,5.

“Kesuburan yang rendah pada areal lahan baru mengakibatkan produktivitas hasil yang didapat juga sangat rendah, untuk lahan sawah kisaran 2,5-3 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG). Tingkat keasaman yang tinggi menjadi sebab kesuburannya rendah,” ujar Setyono.

Sementara itu, Kepala Balai Penelitian Tanah, Balitbang Pertanian, Husnain mengakui potensi pengembangan lahan untuk pertanian yang belum dimanfaatkan masih cukup besar. Misalnya, lahan rawa dari total luas 34,1 juta ha berpotensi untuk pertanian sekitar 20 juta ha. Dari luas tersebut baru dimanfaatkan sekitar 3,68 juta ha atau sekitar 18%, sehingga masih ada 16,32 juta ha atau 82% yang belum dimanfaatkan.

Sedangkan lahan kering eksisting dari 17 juta ha yang masih potensial seluas 24,7 juta ha yang berada di kawasan budidaya pertanian (APL) seluas 5,7 juta ha, di kawasan Hutan Produksi (HP) 14,6 juta ha, dan 4,4 juta ha di kawasan Hutan Produksi Konservasi (HPK) sebagai lahan cadangan.

“Untuk mengatasi kemasaman tanah dibutuhkan aplikasi dolomit. Sebab, pupuk dolomit tidak hanya mengandung kapur, tapi juga mengandung unsur Magnesium yang cukup tinggi. Selain itu dolomit perlu diaplikasikan pupuk raw phospat dan bahan organik,” ujar Husnain.

Loading...