Diklaim Bebas Kadar Laktosa, Susu Bebelove 1 Dijual Mulai Harga Rp 32.500

Susu Bebelove - (Sumber: lazada.co.id)Susu Bebelove - (Sumber: lazada.co.id)

Bagi bayi baru lahir, sumber gizi terbaik adalah Air Ibu (ASI). Tetapi, apabila ASI tidak mencukupi, dapat diberikan alternatif berupa PASI (Pengganti Air Ibu), yang dapat dikelompokkan menjadi starting formula (0-6 bulan), followup formula (>6bulan), serta spesific formula, yang merupakan formula khusus untuk bayi yang mengalami gangguan malabsorbsi, alergi, intoleransi, maupun penyakit metabolik.

Bagi para ibu yang memerlukan PASI, mungkin dapat mencoba salah satu susu formula, yaitu Bebelove. Susu ini termasuk susu berbahan dasar susu sapi, namun diproses sedemikian rupa sehingga bebas kadar laktosa dan dapat dipakai untuk bayi yang mengalami intoleransi laktosa.

“Saat ini tren-nya kan mengurangi kon­sumsi gula pada anak. Gula lebih berbahaya daripada lemak untuk anak-anak. Di masa pertumbuhan, lemak penting untuk pertumbuhan otak. Sebaliknya efek samping gula dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan seperti kegemukan dan diabetes di kemudian hari,” kata Ariani Dewi Widodo, spesialis anak dari RSAB Harapan Kita.

Untuk bayi berusia 0-6 bulan, dapat mencoba Susu Bebelove 1. Harganya berbeda, sesuai dengan ukurannya. Untuk Bebelove 1 ukuran 200gr, seharga Rp 32.500. Harganya rata-rata sama, baik di Alfamart maupun Indomaret. Selain di kedua tempat itu, Anda juga dapat membelinya di apotek atau online.

Sedangkan, untuk bayi di atas usia 6 bulan, dapat mencoba produk Susu Bebelove 2, yang juga tersedia dalam berbagai ukuran dan harga. Mulai dari Bebelove 2 ukuran 200gr yang dijual dengan harga Rp 32.500 sampai ukuran 1800gr yang dijual seharga Rp 265.000.

Lantas, bagaimana pendapat para ahli atau dokter mengenai susu formula? “Produk susu formula diperlukan ketika kondisi ibu terpisah dari sang anak atau sang ibu sakit tertentu. Hal ini harus ada alternatif yang sesuai untuk menggantikan ASI,” ungkap Deborah R Tjandrakusuma, Komisi Etik APPNIA (Asosiasi Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak).

Deborah mengatakan bahwa peredaran susu formula sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan Organisasi Dunia (WHO) pada tahun 1981, dan mulai diberlakukan di Indonesia pada tahun 1984.

Dalam memberikan susu formula, para ibu sebaiknya tidak melakukannya di luar rekomendasi dokter atau pengaruh iklan. Selain itu, perlu juga diperhatikan mengenai penyajian susu itu sendiri.

Menurut Prof Dr Sam Soeharto, Sp.MK (K), Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) Susu adalah suatu media yang baik bagi pertumbuhan bakteri, karena itu setelah diencerkan sebaiknya susu tidak dibiarkan dalam waktu lama, sehingga memungkinkan bakteri berkembang biak.

“Bisa dibayangkan berapa banyak bakteri kalau susu dibiarkan lebih dari 2 jam setelah diseduh. Maka kalau keracunan susu bukan cuma tanggung jawab produsen, tapi dilihat apakah juga melakukan proses penyajian susu yang benar,” jelas Dr Roy.

Perkembangan bakteri terbilang sangat cepat. Prof Sam menjelaskan bakteri pada susu mampu memperbanyak diri setiap 20 menit, yang ditentukan keadaan sekitar (biasanya suhu kamar 25 derajat celsius). Perkembangan bakteri bisa terjadi sangat cepat setiap 20 menit. Jadi ketika dibiarkan hingga 2 jam, maka sel-sel bakteri di dalam susu sudah berlimpah.

Loading...