Dikenal Sebagai Komponen Fire Alarm, Harga Kabel Belden AWG 18 2 Pair Per Rol Sekitar Rp 2,8 Jutaan

harga, kabel, belden, awg, 18, 2, pair, per, rol, meter, fire, alarm, komponen, transmisi, maksimum, jenis, alumunium, ringan, tahan, panas, 2017, tembaga, perumahan, di, gedung online, toko, proyek, pembangkit, listrikPenampakan kabel 2 pair saat dikelupas (sumber: marvac.com)

Dalam dunia perkabelan, dikenal adanya AWG 18 2 pair. Kabel ini biasanya digunakan untuk jangkauan transmisi maksimum 100 meter. Dan, juga termasuk dalam komponen fire alarm.

untuk kabel Belden AWG 18 2 pair per rol-nya (305 meter) adalah sekitar Rp 2,8 jutaan. Tetapi, kabel itu bisa dibeli dalam lebih kecil, misalnya 5 meter, atau 10 meter. Selain membeli di toko kabel, Anda juga bisa membelinya secara online.

Kebutuhan akan kabel di Indonesia, terbilang cukup besar, baik itu kabel untuk atau telekomunikasi. Hal itu dipicu tingkat elektrifikasi di Indonesia yang masih di bawah 80 persen. Sehingga, permintaan kabel dinilai akan meningkat.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pabrik Kabel Listrik Indonesia (Apkabel), Noval Jamalullail. Menurutnya, perkiraan wilayah di Indonesia yang belum teraliri listrik sebesar 85 persen. “Karena masih banyak yang belum dialiri listrik, pasti membutuhkan pembangkit lebih banyak. Akhirnya, berpengaruh pada transmisi dan kebutuhan kabel menjadi lebih besar,” ujarnya.

Maka dari itu, membuat proyek 35.000 megawatt (MV) untuk membangun pembangkit listrik. Pembangkit itulah yang nantinya menghasilkan transmisi dan membutuhkan kabel dalam jumlah besar.

Namun, menurut Noval, hal itu seringkali mengalami beberapa kendala, terutama ketika pemerintah tidak memiliki full power untuk segera menjalankan proyek. “Berbeda dengan China, proyek apapun dari pemerintah langsung dikerjakan oleh swasta. Kalau di Indonesia, negosiasinya sulit, tidak cocok, tidak jalan,” tambah Noval.

Sementara itu, untuk kabel, berdasarkan keadaan tahun 2017 permintaan kabel tembaga tertekan dan tumbuh di kisaran 15 persen. Sebaliknya, permintaan kabel melonjak hingga tiga kali lipat karena didorong oleh proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt.

Direktur PT Kabelindo Murni Tbk, Petrus Nugroho mengatakan bahwa meskipun harga aluminium dunia naik, margin yang diperoleh masih baik lebih dibandingkan dengan bisnis kabel tembaga. Hal ini karena PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), yang menjadi salah satu pembeli terbesar kabel aluminium, menetapkan harga beli yang dinilai cukup baik bagi para produsen.

“Untuk 2017, kami menargetkan pertumbuhan bisnis kami secara total sebesar 10 persen, ini salah satu faktornya karena permintaan kabel tembaga yang tidak terlalu baik,” kata Petrus Nugroho.

Emiten dengan kode saham KBLM tersebut memiliki antara lain bare conductor, kabel listrik tegangan rendah, kabel listrik tegangan menengah, kabel RF, shipboard cable, dan special cable. Berdasarkan laporan keuangan perseroan unaudited, pada September 2017 penjualan kabel listrik meningkat 16,30 persen dari Rp 746,50 miliar menjadi Rp 868,20 miliar.

Kendati penjualan mengalami peningkatan, laba bersih tahun berjalan menurun dari Rp 31,85 miliar menjadi Rp 18,16 miliar secara tahunan. Beban pokok penjualan perseroan terkerek naik, salah satunya karena beban bahan baku juga naik 58,61 persen dari Rp 354,31 miliar menjadi Rp 561,99 miliar.

Sebelumnya, Noval Jamalullail, Ketua Umum Asosiasi Pabrik Kabel Listrik Indonesia (Apkabel), mengatakan dengan kebutuhan kabel untuk transmisi listrik yang besar, permintaan kabel aluminium pada tahun ini meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kabel lainnya.

Jenis kabel listrik aluminium dipilih untuk transmisi karena lebih ringan dan tahan panas dibandingkan dengan kabel tembaga. Kabel listrik tembaga, lanjut Noval, lebih banyak digunakan untuk instalasi listrik di perumahan maupun di gedung.

Loading...