Dijual Mulai Rp14 Ribuan per Kg, Harga Kelapa Parut Disebut Masih Merosot

Harga, kelapa, kupas, parut, kering, dry, coconut, dijual, per, kg, kilogram, di, pasaran, Inaco, merek, brand, produk, tren, komoditas, pasokan, ekspor, naik, permintaan, pasar, dunia, minyak kelapa, coconut oil, santan, air kelapa, dessicated coconut, pedagang, pembeli, kopra, pabrik, petani, tingkat, kondisi, transportasi, akomodasiIlustrasi: kelapa dan hasil parutannya (sumber: goodfood.com)

Sejak pertengahan tahun hingga November 2018 lalu, di sejumlah sentra produksi terus menurun. Aksi protes juga kian bermunculan dari petani dan mahasiswa di beberapa daerah seperti di Ternate (Maluku Utara), Manado (Sulawesi Utara) hingga Jakarta. Upaya melakukan ekspor untuk mencegah anjlok pun belum berdampak signifikan.

Secara umum, harga kopra (kelapa) masih jauh di bawah harga normal di sentra produksi seperti Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur. Ada daerah yang dilaporkan harga kopranya mulai naik, seperti di Halmahera Selatan (Maluku Utara), namun sebagian besar belum terlihat tanda-tanda membaik.

Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara (Malut) Bahrain Kasuba, Rabu (28/11) menyatakan, harga kopra di daerah itu saat ini telah naik dari Rp2.000 per kg menjadi Rp4.000 per kg. Informasi itu, kata dia seperti ditulis Antara, diperoleh dari pengecekan di sejumlah pedagang atau pembeli kopra di wilayah tersebut.

Sebelumnya, untuk mencegah harga kelapa yang terus merosot, Kementerian mendorong ekspor turunan kelapa, salah satunya kelapa kering (desiccated coconut). Ekspor dari Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) itu ditujukan ke belasan negara di Asia, Amerika Serikat (AS), hingga Eropa.

“Produk kelapa yang diekspor antara lain dessicated coconut (DC), coconut crude oil (CCO), turunan CCO, kelapa bulat, karbon aktif, dan air kelapa,” kata Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Bambang dalam keterangan pers yang dilansir Beritasatu.

Meski harga kelapa kian jatuh. Tapi permintaan kelapa di pasar dunia masih berindikasi positif. Amrizal Idroes Ketua Himpunan Petani Kelapa Indonesia (HIPKI) mengakui harga kelapa anjlok. Hal ini terlihat dari pantauan dia akan harga kelapa di bursa Rotterdam yang menurutnya telah mencapai US$ 935 ton atau setara Rp 3.500 – Rp 3.700 per kilogram (kg) di tingkat . Padahal beberapa waktu lalu, harga kelapa kopra berada di kisaran Rp8.000 di tingkat .

“Harga di tingkat petani bisa lebih turun lagi, dan sekarang keadaan produksi sedang baik, sehingga suplai dan demandnya tidak kena,” kata Amrizal kepada Kontan.

Menurutnya, kondisi petani juga dipersulit dengan beban transportasi dan nilai tukar ke pedagang. Apalagi untuk sejumlah sentra produksi kelapa seperti di Sulawesi dan Sumatra belum memiliki jalan yang efisien. Tapi Amrizal tidak terlalu pesimis, pasalnya perdagangan produk turunan kelapa terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data semester I 2018, ekspor kelapa alias coconut oil (CNO) mengalami kenaikan 34% jadi 350.000 ton.

Tak hanya itu, volume ekspor kelapa kering parut atau dessicated coconut pada periode sama naik 21% jadi 9.158 ton. Begitu juga dengan ekspor santan dan air kelapa juga mengalami kenaikan.

Oleh karena itu, Amrizal optimis hingga akhir tahun tren komoditas kelapa tetap akan memberi untung. Untuk CNO, diperkirakan bisa terjadi kenaikan 15%-20% lagi. Apalagi kelapa merupakan komoditas yang sepenuhnya dalam negeri dan minim impor. Tambah lagi, sebagai komoditas ekspor, industri pengolah kelapa mendapat untung tambah di tengah pelemahan .

Sebagai informasi, dipantau dari situs Informasi Pangan Jakarta, saat ini harga kelapa kupas dijual dengan kisaran Rp7.000 – Rp10.000 per butir. Sedangkan untuk kelapa parut ditawarkan seharga Rp14 ribuan hingga Rp20 ribuan per kg. Salah satu merek populer, Inaco, juga memiliki produk kelapa parut kering (dry coconut) yang dijual Rp50 ribuan per kilogram.

Loading...