Dijual Harga Rp 29.500 Untuk Kemasan Kecil, BPOM RI Bekukan Izin Edar Produk Albothyl

harga, albothyl, kemasan, kecil, bpom, resmi, surat, edaran, kandungan, indikasi, gusi, sakit, stadium, awal, kulit, mati, mulut, 2018, produk, obat, kumur, efek, samping, pasien, laporan, infeksi, membesar, berlubangAlbothyl dalam kemasan botol kecil (sumber: tirto.id)

Nama / Albothyl mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. itu dikenal sebagai sariawan. Menurut keterangan pada , tiap 1 gramnya mengandung policresulen 360mg (produk kondensasi dari metacresolsulfonic acid dan methanal).

Indikasi dari Albothyl antara lain regenerasi jaringan luka atau peradangan yang kronik, gingivitis ( gusi stadium awal), stomatitis aftosa, herpes labialis, dan lainnya. Di beberapa apotek, tersedia kemasan kecil yaitu 5 ml yang dijual dengan Rp 29.500 per botol.

Tetapi, sayangnya, sekitar bulan Februari 2018, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) membuat surat edaran resmi penghentian peredaran produk Albothyl. Sejak tahun 2016, BPOM telah menerima sekitar 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima keluhan pasien mengenai efek samping penggunaan obat Albothyl untuk sariawan. Efek samping yang dirasakan beberapa orang yaitu sariawan membesar dan berlubang sehingga menyebabkan infeksi (noma like lession).

“Diputuskan tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada (dermatologi), telinga, hidung dan tenggorokan (THT), sariawan (stomatitis aftosa), dan gigi (odontologi),” tulis rilis dari BPOM.

BPOM telah membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat hingga indikasi yang diajukan disetujui. Hal itu tidak hanya berlaku bagi Albothyl, tetapi juga produk sejenisnya.

“Selanjutnya, PT Pharos Indonesia (produsen Albothyl) dan industri lain yang memegang izin edar obat mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat diperintahkan untuk menarik obat dari peredaran selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar. BPOM RI mengimbau kepada profesional kesehatan dan masyarakat untuk menghentikan penggunaan obat tersebut,” tulis BPOM kembali.

Masyarakat yang terbiasa menggunakan Albothyl untuk mengatasi sariawan, dapat menggunakan obat pilihan lain yang mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1%, atau kombinasi dequalinium chloride dan C. Apabila berlanjut, masyarakat/pasien disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker di sarana pelayanan kesehatan terdekat.

Peredaran Albothyl yang dihentikan mendapatkan respons positif dari kalangan profesional kesehatan yaitu dokter gigi Widya Apsari. Melalui pencarian referensi dari jurnal-jurnal kesehatan, ia menemukan alasan mengapa penderita merasa sariawan sembuh seketika setelah menggunakan Albothyl.

“Terjadi efek vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah perifer (tepi) pada daerah sariawan, yang menyebabkan suplai darah pada daerah sariawan terhenti yang menyebabkan jaringan sariawan menjadi mati. Hal ini menjelaskan mengapa rasa perih pada sariawan sesaat hilang setelah sariawan diberikan policresulen baik secara ditotol maupun dikumur, yaitu karena jaringan sariawan menjadi mati. Kalau mati ya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi,” tutur Widya.

Setelah itu, tubuh akan berusaha melepaskan jaringan mati. Sehingga terjadi suatu deskuamasi jaringan atau pengelupasan kulit. Efek itu sering terlihat pada penggunaan policresulen dengan cara kumur. Sesaat setelah berkumur, akan tampak kulit mulut yang terkelupas. Selanjutnya akan terbentuk jaringan baru dan sehat, yang menyebabkan sariawan tidak sakit lagi.

Loading...