Dijual Dengan Harga Rp500 Ribu, Binatang Kukang Masih Dijual Bebas Lewat Medsos

Kukang dalam sangkar (sumber: netz.co.id)Kukang dalam sangkar (sumber: netz.co.id)

Hewan dilindungi, (Nycticebus Coucang) ternyata bebas di sejumlah lokasi pasar di Tanah . Fakta tersebut berdasarkan pengakuan salah satu tersangka penjual hewan dilindungi kepada polisi, Didik Purnomo. Dia mengakui, menawarkan hewan lucu bertubuh mungil itu melalui pada jaringan pecinta hewan.

”Kalau ada yang cari baru saya carikan ke pasar-pasar hewan di Surabaya seperti di Pasar Kupang maupun Bratang. Di sana banyak dijual bebas,” jelasnya

Kukang biasa dijual dari pengepul ke pedagang seharga sekitar Rp 500 ribu. Wakil Direktur Kriminal Khusus (Wadirkrimsus) Polda Jabar, AKBP Diki Budiman, mengatakan, sebelum dijual, primata dilindungi itu diburu oleh sejumlah orang di sejumlah hutan di Jawa Barat. Kukang Jawa tersebut kebanyakan diburu dari beberapa daerah di Jawa Barat seperti Garut, Sumedang, Cililin, Cianjur, Sukabumi dan Tasik.

Setelah diburu, kukang itu pun kemudian dijual oleh pemburu kepada pengepul seharga Rp 50 ribu. “Harga jual dari pemburu ke pengepul Rp 50 ribu. Dari pengepul ke pedagang dijual sekitar Rp 500 ribu, tergantung kondisi kukangnya,” ujar Diki, dilansir Tribun Jabar.

Setelah kukang itu berada di tangan pengepul, satwa itu pun kemudian dijual lagi, baik kepada pedagang maupun langsung ke konsumen. Penjualan kukang oleh pengepul itu pun dilakukan melalui .

International Animal Rescue (IAR) mencatat Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah tertinggi domisili penjualan hewan kukang. Hingga saat ini, pembelian yang dilakukan pemelihara membuat dan perburuan kukang tetap berlangsung.

Petugas IAR Elvira mengatakan, bahaya baru muncul dari pemelihara yang kemudian menjadi pedagang. Hal tersebut memperkuat bahwa pemelihara memiliki peran ganda sebagai pelaku kejahatan satwa. “Bermula membeli, memelihara hingga akhirnya ikut memperdagangkan,” ujarnya seperti dikutip radarbogor.com.

Dari catatannya selama 2016-2017, jual beli marak di media sosial Facebook. Sebab, terdapat lebih dari 50 grup jual beli, sebanyak 1.070 akun penjual kukang, 1.359 individu kukang, 59 persen kukang yang diperdagangkan adalah kukang Jawa, 98 persen penjual pria, berdomisili di Jawa Barat, dan rata-rata harga pasaran kukang Rp 400 ribu.

“Selama 2016 sampai 2017 sekitar 2.904 individu kukang diambil paksa dari habitatnya, 88 persen penjual­nya adalah pemelihara, asumsi kerugian akibatnya hingga Rp 59 miliar,” bebernya.

Berdasarkan hasil analisis dari 50 grup jual beli tersebut, lanjutnya, terjadi penurunan iklan perdagangan kukang yang disebabkan oleh kegiatan penegakan hukum terhadap pelaku. Disertai dengan pemberitaan kasus di media massa kemudian diviralkan di media sosial.

“Di 2017 terdapat penurunan jumlah pelaku sebesar 14 persen dibandingkan tahun 2016 yang dipengaruhi oleh tindakan tegas penegak hukum sehingga menimbulkan efek jera dan rasa takut dari masyarakat,” tegasnya.

Sebelumnya, Koordinator Polisi Kehutanan Bogor berhasil menangkap AP, warga Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, saat menjual kukang Jawa miliknya melalui kurir yang masih berstatus pelajar. AP dibawa ke Kejari Kota Bogor dengan barang bukti satu kukang Jawa dan satu unit sepeda motor Vario putih bernomor polisi F 4067 GX untuk dilakukan pemeriksaan. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, AP dijerat UU 5/1990 tentang Konservasi pasal 21 ayat (2) huruf a.

“Ancaman hukuman lima tahun dengan denda Rp 100 juta,” kata Koordinator Polisi Kehutanan Bogor Aman Sujiaman saat ditemui di Kejari Kota Bogor.

Loading...