Dihantui Kenaikan Suku Bunga AS, Otot Rupiah Mengendur di Penutupan

Otot kembali kendur terhadap AS pada Selasa (29/11) ini karena cenderung bersikap wait and see jelang rencana menaikkan suku bunga acuan pada bulan depan. Menurut Index pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda harus menutup sesi dagang hari ini dengan melemah 28 poin atau 0,21% ke level Rp13.560 per AS.

Rupiah sebenarnya mengawali perdagangan hari ini di zona hijau usai menguat 7 poin atau 0,05% ke Rp13.525 per dolar AS. Namun, istirahat siang, mata uang Garuda berbalik melemah 26 poin atau 0,19% ke level Rp13.558 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.38 WIB, spot kembali terdepresiasi 16 poin atau 0,12% ke Rp13.548 per dolar AS.

“Rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan membuat pelaku pasar cenderung bersikap wait and see,” ujar pengamat pasar uang di Bank Woori Saudara Indonesia, Rully Nova. “Karena itu, pergerakan mata uang negara berkembang masih dibayangi oleh potensi kenaikan suku bunga AS.”

Senada, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang, mengatakan bahwa pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh faktor Amerika. Pasalnya, ada kemungkinan Fed Fund Rate naik lebih cepat dan besar tahun depan.

“Setelah Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS, ada proyeksi ekonomi yang akan tumbuh di AS,” urai Edwin. “Inflasi meningkat dan diiringi suku bunga yang naik lebih cepat dan besar. Karena itu, pun merepatriasi uang mereka ke AS.”

Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, menambahkan bahwa pasar domestik juga cenderung dibayangi kekhawatiran seperti inflasi November 2016 yang diperkirakan naik serta rencana demonstrasi pada akhir pekan ini. “ dolar AS menjelang akhir bulan juga turut membuat pergerakan rupiah cenderung melemah meski dalam kisaran terbatas,” sambung Rangga.

Loading...