Digempur COVID-19, Rupiah Malah Berakhir Menguat Tipis

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

JAKARTA – mampu menutup Kamis (14/1) sore di zona hijau ketika kasus COVID-19 di awal tahun 2021 ini semakin mengganas, dengan gelombang kedua memaksa China menutup beberapa kota mereka. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp14.059 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis pukul 10.00 WIB menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.119 per dolar AS, terdepresiasi 10 poin atau 0,07% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.109 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, gerak rupiah juga menurun 0,23% menuju level Rp14.093 per dolar AS.

“Aset berisiko mendapat sentimen negatif setelah pemerintah China melakukan lockdown di 4 kota di yang berpenduduk 28 juta jiwa,” tutur pengamat modal MNC Asset Manajemen, Edwin Sbayang, dilansir dari Bisnis. “Di sisi lain, ada peringatan baru dari WHO akan ada potensi kenaikan jumlah kasus baru di Amerika Utara serta perpanjangan masa lockdown di beberapa negara di Eropa.”

Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, menambahkan, mata uang rupiah masih dalam tekanan dolar AS, setelah Presiden Boston, Eric Rosengren, mengatakan bahwa ekonomi Negeri Paman Sam akan terus kuat pada paruh kedua tahun ini. Hal tersebut didukung vaksinasi yang tersedia secara luas, walaupun COVID-19 masih membuat kebijakan moneter cenderung akomodatif.

Dari pasar global, indeks dolar AS memperpanjang rebound dari posisi terendah hampir tiga tahun versus mata uang utama pada hari Kamis, didukung oleh imbal hasil AS yang lebih tinggi, karena presiden AS terpilih, Joe Biden, bersiap menguraikan rencananya untuk stimulus fiskal besar-besaran. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,38 poin atau 0,04% ke level 90,393 pada pukul 11.16 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, Biden dijadwalkan memberikan rincian pada hari ini waktu setempat tentang rencana untuk mengeluarkan bantuan pandemi senilai triliunan dolar AS. Imbal hasil Treasury 10-tahun naik setelah CNN melaporkan paket itu akan menjadi sekitar 2 triliun dolar AS, yang akhirnya menambah dukungan untuk greenback. Meski begitu, banyak analis memperkirakan rebound mata uang bersifat sementara, karena penumpukan posisi dolar AS yang bearish terguncang.

Loading...