Dibuka Turun 8 Poin, Rupiah Menuju Pelemahan 5 Hari Beruntun

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – menuju pelemahan kelima beruntun pada Selasa (5/3) pagi. Menurut paparan Bloomberg Index, Garuda mengawali dengan melemah 8 poin atau 0,06% ke level Rp14.138 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 10 poin atau 0,07% di posisi Rp14.130 per dolar AS pada akhir Senin (4/3) kemarin.

Sementara itu, dari pasar global, pergerakan indeks dolar AS cenderung fluktuatif pada pagi ini. Mata uang Paman Sam terpantau melemah super tipis 0,001 poin atau 0,01% ke level 96,681 pada pukul 08.30 WIB. Sebelumnya, greenback sempat berakhir menguat 0,155 poin atau 0,16% di posisi 96,682 pada hari Senin.

“Rupiah sebenarnya masih berpotensi menguat pada pekan ini, terutama dipicu oleh hubungan dagang AS dan China yang kembali mesra setelah pekan lalu agak tegang,” ujar Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip dari Kontan. “Hal ini membuat pasar kembali berbunga-bunga karena ada harapan kedua belah pihak mendekati kesepakatan perdagangan setelah sengketa tarif selama setahun.”

Sebelumnya, pada hari Minggu (3/3) waktu setempat, Wall Street Journal melaporkan bahwa AS dan China dapat mencapai kesepakatan resmi pada pertemuan puncak sekitar tanggal 27 Maret mendatang, yang memberikan kemajuan dalam pembicaraan antara kedua . Selain itu, Partai Komunis Tiongkok akan melakukan pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional Tiongkok di Beijing, yang biasanya menarik perhatian pasar karena memberikan petunjuk untuk prospek negara.

“Minggu ini ada beberapa pertemuan bank sentral, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank of Japan, yang semuanya cenderung mengambil sikap dovish atau netral,” sambung Ibrahim. “Sentimen tersebut akan mendukung perdagangan aset berisiko, tidak terkecuali rupiah. Mata uang Garuda hari ini kemungkinan bergerak di level Rp14.100 hingga Rp14.200 per dolar AS.”

Ekonom Pefindo, Fikri C. Permana, menambahkan bahwa permintaan dolar AS meningkat karena AS dan China belum juga menyelesaikan perundingan perdagangan mereka. Situasi ini memicu spekulasi dan mengangkat pamor dolar AS. Sementara, dari dalam negeri, belum ada sentimen yang dapat mengatrol rupiah.

Loading...