Dibuka Stagnan, Tren Positif Rupiah Berpotensi Terhenti

Mobile BankingMobile Banking

Setelah mengalami penguatan selama dua pekan terakhir, tren positif berpotensi terhenti pada Selasa (16/1) ini. Seperti dipaparkan Index, mata uang Garuda mengawali transaksi hari ini di posisi stagnan Rp13.332 per . Kemudian, pada pukul 08.11 WIB, spot langsung melemah 6 poin atau 0,05% ke level Rp13.338 per .

“Rupiah akan melemah karena sebelumnya mengalami penguatan yang cukup signifikan,” kata analis PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, seperti dikutip Kontan. “Meski demikian, pelemahan yang dialami mata uang Garuda masih akan tertahan karena indeks dolar AS masih dalam tren negatif mengingat belum ada data ekonomi Paman Sam yang berpengaruh.”

Sebaliknya, analis pasar uang , Reny Eka Putri, justru melihat bahwa rupiah diyakini tetap mampu mempertahankan tren positif. Pasalnya, menurut Reny, kejatuhan greenback dan data ekonomi dalam negeri yang positif berpotensi menyokong . “Nanti malam, ada data neraca perdagangan Eropa yang diperkirakan membaik, sehingga bisa mengatrol kurs euro dan mata uang lainnya,” ujar Reny.

Dari pasar global, seperti dilaporkan , indeks dolar AS memang terus mengalami tren pelemahan hingga Senin (15/1) kemarin yang tercatat turun ke level 90,279 terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, atau posisi terendah sejak Desember 2014. Mata uang Paman Sam melorot untuk perdagangan empat hari beruntun ketika sikap bearish para pedagang menambah short position mereka.

Pergerakan dolar AS juga tertekan yang dialami yen Jepang dan euro. Yen menguat di tengah berlanjutnya spekulasi bahwa (BOJ) dapat mengurangi stimulus moneter mereka pada tahun ini. Pada saat yang sama, Eropa (ECB) mengisyaratkan bahwa ekonomi cukup kuat untuk menjamin pengetatan stimulus.

“Outlook pengurangan pembelian jangka panjang oleh Bank of Japan menjadi sentimen utama yang memicu pelemahan dolar AS,” papar analis PT Monex Investindo Futures, Faisyal. “Di sisi lain, isu pemerintah China yang akan menghentikan pembelian pemerintah AS turus menambah tekanan bagi mata uang greenback.”

Loading...