Dibuka Stagnan, Laju Rupiah Berharap Dorongan Tax Amnesty

Nilai tukar rupiah diramal berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (24/5) ini. Pembahasan tax amnesty yang masih berlanjut diharapkan bisa memberikan sentimen positif ke pasar keuangan jika segera disahkan, meski di sisi lain, minyak mentah masih cenderung melemah.

Menurut catatan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan dibuka stagnan di posisi 13.574 per AS. Kemudian, Garuda terdepresiasi tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.579 per dolar AS pada pukul 08.03 WIB. Sementara, indeks dolar AS terpantau tipis 0,077 atau 0,08% ke level 95,308 pada pukul 06.56 WIB.

“Pembahasan tax amnesty yang masih berlanjut diharapkan bisa memberikan sentimen positif ke pasar keuangan jika segera disahkan,” papar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Meski di sisi lain, harga minyak mentah masih terpantau melemah.”

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan penerimaan negara yang bisa diraup dari kebijakan pengampunan atau tax amnesty minimal Rp165 triliun. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (23/5) kemarin, Menteri Keuangan, Bambang P.S. Brodjonegoro, mengatakan besaran minimal ini sudah diperhitungkan masuk dalam bagian dari 2016, termasuk hasil revisi.

Sementara itu, Kepala Riset NH Securities Indonesia, Reza Priyambada, mengatakan bahwa saat ini pelaku pasar lebih memilih sikap wait & see. “Pasar juga memonitor pergerakan terhadap dolar AS setelah rilis neraca perdagangan,” kata Reza.

“Meski laju dolar AS melemah terhadap yen, namun pelemahannya cenderung terbatas karena diimbangi melemahnya harga sejumlah komoditas,” sambung Reza. “Jadi, tetap cermati sentimen yang ada terhadap laju rupiah.”

Pada perdagangan Senin kemarin, rupiah mampu ditutup di zona hijau dengan menguat 34 poin atau 0,25% ke level Rp13.574 per dolar AS. Penguatan rupiah salah satunya disebabkan meredanya gejolak pasar usai rilis notulensi FOMC.

Loading...