Dibuka Rebound 18 Poin, Rupiah Diramal Masih Akan Tertekan Faktor Eksternal

Meski mampu rebound pada pembukaan awal pekan ini (23/5), rupiah diramal masih akan melanjutkan tren pelemahan. Rilis data pertumbuhan AS yang diperkirakan membaik serta efek hasil notulensi yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed bisa menjadi pengganjal laju Garuda.

Menurut Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan dibuka menguat 18 poin atau 0,13% di posisi 13.590 per AS. Namun, kurs mata uang Garuda berbalik terdepresiasi tipis 5 poin atau 0,03% ke level Rp13.612 per AS pada pukul 08.24 WIB. Di sisi lain, indeks AS terpantau melemah pagi ini 0,03% ke posisi 95,306.

“Dolar AS masih akan menguat meski laju penguatannya terus melambat,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Ekspektasi kenaikan suku bunga (FFR) target di Juni 2016 masih menjadi dorongan utama.”

Ditambahkan Rangga, penguatan dolar AS juga membuat sejumlah komoditas, termasuk , tertekan. Selain itu, tekanan terhadap harga juga dipengaruhi pernyataan Iran yang masih belum akan menahan ekspor di saat ini.

“Kuatnya dolar AS serta memburuknya sudah cukup untuk menekan rupiah,” sambung Rangga. “Malam nanti ditunggu indeks manufaktur AS yang diperkirakan membaik.”

Senada, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengemukakan bahwa pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS masih akan terjadi hingga hari ini. “Penguatan rupiah bisa terjadi jika rilis data AS tidak begitu baik. Namun jika sebaliknya, ini akan memperkuat kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sehingga makin menekan rupiah,” papar Josua.

Loading...