Dibuka Positif, Rupiah Berbalik Melemah di Akhir Transaksi

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

JAKARTA – Setelah dibuka di area , ternyata harus menutup Jumat (17/7) sore di zona merah, karena aset-aset berisiko dan nilai tukar regional cenderung tertekan, antara lain oleh pertikaian AS-China dan kasus COVID-19. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 77 poin atau 0,53% ke level Rp14.702 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.780 per dolar AS, terdepresiasi 148 poin atau 1,01% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.632 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia tampak bergerak , dengan kenaikan dialami peso Filipina dan pelemahan menghampiri yuan onshore China serta rupiah.

“Rupiah hari ini berpotensi melemah karena tekanan yang terjadi pada aset-aset berisiko, seperti pada indeks saham Asia. Selain itu, nilai tukar regional masih terdepresiasi terhadap dolar AS,” tutur Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir Kompas. “Kekhawatiran juga masih belum lepas di keuangan karena hubungan AS dan China yang memburuk serta meningkatnya penularan virus COVID-19.”

Dari pasar , indeks dolar AS sedikit melemah terhadap sebagian besar mata uang setelah sebelumnya diuntungkan kekhawatiran bahwa kebangkitan kasus coronavirus mulai membatasi aktivitas ekonomi, menarik aliran safe haven ke . Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,095 poin atau 0,10% ke level 96,251 pada pukul 11.25 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, yuan China mengalami penurunan terbesar dalam tiga minggu, tertekan gesekan diplomatik antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Sementara itu, euro didukung dengan baik oleh harapan bahwa para pejabat Eropa akan menyetujui langkah-langkah stimulus fiskal pada pertemuan yang dimulai hari Jumat waktu setempat.

Beberapa investor mengatakan mereka mulai melihat tanda-tanda yang meresahkan dalam data baru-baru ini, dengan lonjakan tanpa henti dalam coronavirus dapat mengancam ekonomi AS. Yang lain menunjuk pertikaian yang melebar antara Amerika Serikat dan China sebagai alasan untuk menghindari perdagangan berisiko, yang seharusnya menjaga permintaan untuk dolar AS.

“Dolar AS saat ini tampak seperti tempat berlindung yang aman karena kekhawatiran mengenai kembalinya lockdown akibat coronavirus,” terang kepala penelitian pasar global di MUFG Bank, Minori Uchida. “Namun, saya khawatir bahwa dolar AS akan mulai kehilangan kekuatan ini jika yield Treasury jangka panjang terus turun.”

Loading...