Dibuka Naik Tipis, Gerak Rupiah Menanti Hasil Pilpres AS

memang mampu mengawali sesi dagang Selasa (8/11) ini dengan langkah . Meski demikian, pergerakan Garuda diprediksi masih cenderung tertekan menanti hasil Pemilu Presiden AS yang dijadwalkan berlangsung tanggal 8 November waktu setempat. Jika Hillary Clinton menang, maka diprediksi akan terus berjaya.

Seperti diwartakan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan menguat tipis 4 poin atau 0,03% ke Rp13.082 per AS. Kemudian, pada pukul 08.31 WIB, spot berbalik melemah 2 poin atau 0,02% ke level Rp13.088 per AS. Sementara itu, indeks AS terpantau melesat 0,74% ke posisi 97,781 pada tutup dagang Senin atau Selasa pagi WIB.

“Rupiah kemarin melemah karena keburu kecewa dengan perlambatan dalam negeri kuartal III,” papar Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto. “Seperti diketahui, PDB Indonesia di periode tersebut cuma 5,02%, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di angka 5,18%.”

Pergerakan rupiah hari ini sendiri cenderung bakal dipengaruhi oleh hasil Pemilu Presiden AS. Meski nilai tukar rupiah juga didorong oleh data dan cadangan devisa Indonesia di Oktober, namun efeknya akan lebih kecil ketimbang hasil Pemilu AS. “Jika ada sinyal Hillary Clinton menang, maka dolar AS akan semakin berjaya,” timpal Research and Analyst Garuda Berjangka, Sri Wahyudi.

Wahyudi pun memperkirakan mata uang domestik pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.050 hingga Rp13.150 per dolar AS. Sementara, Rully menebak rupiah masih tertekan dan berada di rentang Rp13.045 hingga Rp13.115 per dolar AS.

Loading...