Dibuka Naik 32 Poin, Potensi Pelemahan Rupiah Masih Terbuka Jelang Referendum Inggris

Jelang pelaksanaan referendum Inggris untuk menentukan nasib keanggotaannya di Uni Eropa pada Kamis (23/6) ini, mampu melaju ke zona hijau. Namun, pelaku pasar diminta tetap mewaspadai potensi pelemahan karena aset safe haven seperti dolar AS dan yen Jepang diperkirakan akan semakin diburu.

Menurut Bloomberg Index, rupiah mengawali hari ini dengan penguatan sebesar 32 poin atau 0,24% di posisi Rp13.251 per dolar AS. Kemudian, mata uang Garuda kembali 27 poin atau 0,20% ke level Rp13.256 per dolar AS pada pukul 08.16 WIB. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,147 poin atau 0,16% ke level 93,569 pada pukul 07.03 WIB.

“Potensi penguatan rupiah masih ada namun akan tertahan sementara akibat isu global,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Pasalnya, meski peluang keluarnya Inggris dari Uni Eropa menipis, namun volatilitas jelang referendum hari ini akan berpengaruh negatif terhadap aset berisiko, terutama di negara berkembang.”

Di sisi lain, tambah Rangga, pidato Gubernur The Fed, Janet , di kongres masih belum menunjukkan sinyal kenaikan suku bunga dalam waktu dekat sehingga membuat dolar AS tetap dalam tren turun. “Malam nanti, ditunggu angka AS yang diperkirakan naik tipis,” sambungnya.

Sementara menurut Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto, dari sisi fundamental dalam negeri, sebenarnya terhitung positif dan stabil. melayangkan pernyataan bahwa ekonomi Indonesia siap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebanyak dua kali tahun ini. “Jelas, ini memberi tenaga bagi rupiah karena prospek yang optimistis,” ujar Rully.

“Namun untuk saat ini, faktor eksternal lebih mendominasi,” lanjutnya. “Kans rupiah untuk lanjut melemah masih terbuka. Sebab, semakin mendekati referendum , pasar akan terus berburu aset safe haven termasuk seperti dolar AS, yen, dan Swiss franc.”

Hal tersebut, ditambahkan Rully, akan menguntungkan dolar AS dan memberi kans bagi the untuk menginjak rupiah. “Bagaimanapun, efek dari dolar AS akan langsung terasa pada pergerakan rupiah, jadi tetap harus disoroti,” imbuh Rully.

Loading...