Dibuka Naik 13 Poin, Gerak Rupiah Menanti Data Neraca Perdagangan Domestik

diperkirakan masih bisa bergerak menguat pada sesi dagang awal pekan ini (16/1) meski dibayangi oleh kekhawatiran menjelang . Seperti dilaporkan Bloomberg Index, pergerakan mata uang Garuda dibuka dengan penguatan 13 poin atau 0,10% ke Rp13.325 per dolar . Namun, pada pukul 08.41 WIB, spot berbalik terdepresiasi 20 poin atau 0,15% ke Rp13.358 per dolar .

“Ruang penguatan rupiah masih tersedia meski kekhawatiran menjelang pelantikan Donald Trump sebagai minggu ini bisa menghadirkan volatilitas tinggi dengan bias pelemahan,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Selain itu, indeks dolar AS juga masih terkoreksi, bahkan setelah pengumuman beberapa data AS yang cukup baik.”

Ditambahkan Rangga, hari ini, pasar domestik menantikan pengumuman neraca Desember 2016 yang diperkirakan 600 juta dolar AS. “Pekan ini juga dinanti Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diprediksi masih akan mempertahankan tingkat suku bunganya (BI RR Rate),” sambung Rangga.

Sementara itu, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Faisyal, mengatakan bahwa pergerakan rupiah memang menanti data neraca perdagangan dalam negeri Desember 2016. Meski angka surplus sebenarnya masih dipandang positif, namun pasar akan melihat bagaimana tingkat ekspor dan .

“Ancaman juga datang dari data ekonomi AS yang dirilis Jumat (13/1) malam, yang menunjukkan penjualan retail Paman Sam bulan lalu tumbuh 0,6% atau di atas proyeksi sebesar 0,5%, sekaligus lebih baik dari bulan sebelumnya, yaitu 0,2%,” papar Faisyal. “Jadi, hari ini, masih ada potensi bagi rupiah untuk melemah meski terbatas.”

Akhir pekan kemarin, mata uang Garuda harus ditutup anjlok 57 poin atau 0,43% ke level Rp13.338 per dolar AS setelah bergulir di kisaran Rp13.287 hingga Rp13.338 per dolar AS. Mata uang Garuda melemah usai pidato Gubernur , Janet Yellen, yang mengatakan ekonomi AS telah sesuai target mampu mengatrol laju indeks dolar AS.

Loading...