Dibuka Menguat Tipis, Rupiah Masih Rawan Terkoreksi

Jakarta mengalami penguatan tipis sebesar 0,03 persen atau 4 poin ke level Rp 13.069 per AS pada awal perdagangan hari ini, Jumat (14/10). Sebelumnya, mata uang Garuda berakhir melemah 55 poin atau 0,42 persen ke Rp 13.073 per AS usai diperdagangkan pada Rp 13.015 hingga Rp 13.090 per Amerika Serikat.

Ekonom PT Permata Tbk, Josua Pardede menjelaskan, “Saya pikir (perang dingin Rusia-AS) belum cukup dominan pengaruhi pasar. Karena mayoritas uang Asia lebih dipengaruhi faktor karena pemerintah Inggris akan mempercepat negosiasi dengan Uni yang memicu kekhawatiran pelaku pasar bisa berdampak pada perlambatan ekonomi Inggris.”

Di samping itu kasus Deutsche Bank juga menjadi salah satu penyebab melemah dan menekan pasar mata uang. “Sementara itu dolar reli bukan hanya karena (kemungkinan kenaikan ) Fed (tapi juga) Brexit,” jelasnya.

Berdasarkan catatan rapat membuktikan bahwa sebagian pejabat pada dasarnya menginginkan agar suku bunga acuan AS segera dinaikkan. Hal ini yang semakin menguatkan ekspektasi kenaikan Fed Rate.

Sementara itu, Senior Research and Analyst Monex Investindo Futures, Albertus Christian menuturkan jika surplus neraca dagang yang menyusut dapat menghalangi pergerakan rupiah. Sementara ini rupiah masih menanti data klaim pengangguran AS yang diperkirakan akan kembali meningkat. “Kalau datanya tidak menguntungkan, akan ada koreksi terbatas terhadap dollar AS,” papar Christian.

Walau demikian, rendahnya sentimen pendorong dari dalam negeri mengakibatkan rupiah masih berpotensi untuk terkoreksi pada perdagangan hari ini. “Keadaan tersebut, membuat rupiah menembus level support kami sebelumnya dan berpeluang untuk melanjutkan pelemahannya dalam jangka pendek. Diprediksi hari ini rupiah ada di resisten Rp 13.054 dan support Rp 13.097,” ujar Kepala Riset NH Korindo Reza Priyambada.

Loading...