Dibuka Menguat Tipis, Rupiah Masih Rentan Terkoreksi

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (20/7) pagi - katadata.co.id

JAKARTA – Rupiah memang mampu mengawali Senin (20/7) pagi di zona hijau, dengan dibuka tipis 7 poin atau 0,05% ke level Rp14.695 per AS menurut catatan Bloomberg Index, ketika greenback juga terpantau positif. Namun, mata uang Garuda dinilai masih rawan mengalami koreksi, seiring dengan faktor penekan dari dalam dan luar negeri.

“Kekhawatiran memburuknya hubungan AS dan serta masalah peningkatan penularan COVID-19 menjadi sentimen negatif untuk pergerakan rupiah pekan lalu,” ujar Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo, Ariston Tjendra, dilansir Bisnis. “Dengan situasi kekhawatiran ini, pemangkasan acuan Bank Indonesia yang menurunkan tingkat imbal hasil di Indonesia menjadi tidak menarik untuk hot money.”

Potensi pelemahan rupiah masih terbuka lantaran penularan kasus COVID-19 yang masih terus naik. Kondisi itu menurutnya dapat menyebabkan pemulihan tersendat. Per Sabtu (18/7), dilaporkan ada 84.882 kasus yang terkonfirmasi di Indonesia, angka yang bahkan melebihi jumlah kasus di China, tempat yang kabarnya menjadi asal mula pandemi tersebut.

“Kekhawatiran terhadap memburuknya hubungan AS dan China juga akan menekan pergerakan rupiah. Kendati demikian, data-data ekonomi yang menunjukkan perbaikan dapat memberikan sentimen positif terhadap rupiah,” sambung Ariston. “Pekan ini, rupiah mungkin bisa bergerak di kisaran Rp14.450 hingga Rp14.900 per dolar AS.”

Prediksi pelemahan rupiah juga didengungkan analisis CNBC Indonesia. Pasalnya, tanda-tanda depresiasi mata uang Garuda sudah terlihat di Non-Deliverable Market (NDF). NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. NDF seringkali memengaruhi psikologis pembentukan harga di spot, dan karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh spot.

Loading...