Dibuka Menguat, Rupiah Menanti Data Inflasi Dalam Negeri

mampu dibuka pada perdagangan Selasa (1/11) di tengah penantian pasar terhadap dalam negeri yang bakal dirilis siang nanti. Seperti diwartakan Bloomberg Index, rupiah mengawali sesi dagang hari ini dengan penguatan sebesar 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.036 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.39 WIB, spot kembali 10 poin atau 0,08% ke posisi Rp13.038 per dolar AS.

“Dolar AS memang tidak bisa menguat tajam terhadap rupiah karena pasar menunggu data inflasi Oktober 2016,” jelas Ekonom , Josua Pardede. “Jika data inflasi tetap rendah, maka Garuda bisa tetap unggul.”

Meski demikian, pelaku pasar juga diminta tetap mewaspadai pelemahan . Harga mentah terus setelah pertemuan OPEC gagal menyepakati pembatasan produksi. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Desember ditutup turun 3,8% ke level 46,86 dolar AS per barel, sedangkan minyak jenis Brent berakhir turun 2,8% ke level 48,32 dolar AS per barel.

“Ketidakpastian juga muncul jelang FOMC meeting pada pekan ini meski diperkirakan belum akan menaikkan suku bunga,” timpal Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Tendensi pidato Janet Yellen (Gubernur The Fed) penting untuk membaca arah suku bunga ke depan.”

Senin (31/10) kemarin, rupiah mampu ditutup menguat tipis 3 poin atau 0,02% ke posisi Rp13.048 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran Rp13.027 hingga Rp13.067 per dolar AS. Gerak rupiah kemarin cenderung berfluktuasi di tengah pergerakan dolar AS yang terpengaruh berita penyelidikan FBI atas isu penggunaan surel pribadi kandidat Presiden AS, Hillary Clinton.

Loading...