Dibuka Menguat, Rupiah Masih Diragukan Bertahan di Zona Positif

www.bloomberg.com

Meski dibuka menguat pada awal Selasa (23/8), namun sejumlah pengamat ekonomi menyangsikan rupiah bisa terus bergerak ke level sepanjang hari ini. Harga minyak dunia yang anjlok serta minimnya sentimen disebut membuat pergerakan mata uang Garuda tidak terlalu leluasa, walau indeks AS juga terpantau bergerak melemah.

Seperti diwartakan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan penguatan sebesar 14 poin atau 0,11% di level Rp13.212 per dolar AS. Spot kembali naik 12 poin atau 0,09% ke posisi Rp13.214 per dolar AS pada pukul 08.31 WIB. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau berbalik melemah 0,087 poin atau 0,09% ke 94,432 usai dibuka dengan penguatan.

“Pernyataan pejabat tinggi The Fed mengenai perekonomian AS yang terus membaik ternyata tidak terlalu solid mempertahankan penguatan indeks dolar AS,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas , Rangga Cipta. “Namun, rupiah masih berpeluang melemah pada hari ini karena harga minyak dunia yang cukup tajam semalam.”

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September turun 1,47 dolar AS menjadi 47,05 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara, patokan minyak Brent kontrak Oktober merosot 1,72 dolar AS dan ditutup ke level 49,16 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

“Dari dalam negeri, usai kebijakan moneter, saat ini fokus tertuju pada kebijakan fiskal,” sambung Rangga. “Pencapaian serta rencana penghematan APBN menjadi fokus utama selain usaha-usaha untuk mendulang pendapatan .”

Hampir senda, Kepala Riset NH Securities Indonesia, Reza Priyambada, mengungkapkan bahwa rupiah masih sulit keluar dari tekanan sehingga cenderung melanjutkan pelemahan. “Meski didukung sentimen domestik, seperti 7-days reverse repo dan optimisme perbaikan ekonomi, namun pelaku pasar nampak masih concern terhadap ketidakpastian yang terjadi di AS.”

“Rupiah kemungkinan bergerak di area support Rp13.249 per dolar AS dan resisten Rp13.207 per dolar AS,” tambah Reza. “Tetap cermati sentimen yang ada yang mampu memengaruhi laju rupiah.”

Loading...