Dibuka Menguat Lalu Longsor, Rupiah Rentan Tertekan Faktor Eksternal

diramal masih akan mengalami tekanan sepanjang Rabu (25/5) ini. Nilai dolar AS yang masih melanjutkan penguatan usai rilis meeting pekan lalu yang cukup hawkish serta perlambatan PDB ( domestik bruto) dalam negeri dan ketidakpastian fiskal membuat lebih rentan mengalami pelemahan.

Menurut laporan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan dibuka menguat 20 poin atau 0,15% di level Rp13.618 per dolar AS. Sayangnya, mata uang Garuda langsung berbalik terdepresiasi 58 poin atau 0,42% ke posisi Rp13.696 per dolar AS pada pukul 08.26 WIB.

“Minggu ini dolar AS masih bisa menguat lagi sehingga peluang rupiah untuk terdepresiasi masih terbuka,” kata Ekonom Samuel Sekuritas , Rangga Cipta. “Namun, gejolak eksternal yang diperkirakan temporer serta komoditas yang membaik bisa menjadi penopang laju mata uang Garuda.”

Senada, Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, mengungkapkan bahwa rupiah mendapat tekanan dari domestik dan regional. “Selain itu, rupiah masih dibayangi rencana kenaikan suku bunga The Fed,” ujar David.

“Namun di sisi lain, lembaga pemeringkat Fitch Rating mempertahankan investment grade untuk Indonesia,” sambung David. “Hal ini bisa menahan kejatuhan rupiah lebih dalam, selain bisa memberikan keyakinan terhadap (S&P) untuk menaikkan peringkat Indonesia.”

Karena itu, meski tekanan dolar AS masih membayangi, namun peluang mata uang Garuda untuk menguat masih ada, walau terbatas. “Rupiah hari ini akan menguat terbatas di rentang Rp13.580 hingga Rp13.650 per dolar AS,” tebak David.

Pada perdagangan Selasa (24/5) kemarin, rupiah harus ditutup di zona merah dengan pelemahan sebesar 64 poin atau 0,47% ke Rp13.638 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipengaruhi penguatan dolar AS usai Ketua Fed St. Louis, James Bullard, mengatakan keanggotaan di Uni Eropa tidak memengaruhi keputusan rencana kenaikan suku bunga The Fed.

Loading...