Dibuka Menguat 6 Poin, Rupiah Siap Balas Dendam?

Rupiah - tandichen.blogspot.comRupiah - tandichen.blogspot.com

JAKARTA – agaknya bersiap balas dendam terhadap dolar AS pada Selasa (23/4) ini. Menurut Bloomberg Index, Garuda mengawali dengan menguat tipis 6 poin atau 0,04% ke level Rp14.072 per dolar AS. Sebelumnya, spot berakhir melemah 33 poin atau 0,23% di posisi Rp14.078 per dolar AS pada Senin (22/4) kemarin.

“Kemarin, rupiah ditutup terdepresiasi karena beberapa eksternal ,” ujar Direktur Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip Kontan. “Seperti data penjualan ritel di Negeri Paman Sam bulan Maret yang naik 1,6% secara bulanan atau tertinggi sejak September 2017, serta klaim tunjangan pengangguran di AS yang turun 5.000 pada pekan yang berakhir 13 April menjadi 192.000.”

Ibrahim menambahkan, selain itu, minyak yang merangkak naik menjadi sentimen lain yang membuat rupiah terkapar. Pasalnya, jika minyak naik, maka impor komoditas ini akan semakin mahal. Akhirnya, beban neraca perdagangan dan transaksi berjalan akan semakin dalam sehingga rupiah kekurangan modal untuk menguat.

Seperti diketahui, harga minyak mentah saja melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan setelah AS dikabarkan akan menghentikan keringanan terhadap sanksi Iran. Pengetatan sanksi tersebut membuat negara-negara seperti China, India, dan negara utama lainnya tidak dapat lagi membeli minyak mentah dari Iran.

Minyak mentah Brent untuk kontrak Juni pada Senin waktu setempat ditutup menguat 2,07 poin atau 2,9% ke level 74,04 dolar AS per barel di ICE Futures Europe Exchange London, yang merupakan level penutupan tertinggi sejak 31 Oktober. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei ditutup menguat 1,70 poin ke level 65,70 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

“Keputusan ini tidak hanya berarti tekanan maksimum pada Iran, tetapi juga tekanan maksimum pada pasar minyak,” kata kepala kebijakan energi di Hedgeye Risk Management LLC, Joe McMonigle, dilansir Bloomberg. “Dikombinasikan dengan penurunan stok minyak mentah global, berlanjutnya penurunan dalam produksi Venezuela, serta kemungkinan gangguan di Libya, penghapusan keringanan terhadap Iran akan menghadirkan tantangan untuk menjaga harga minyak global tetap terkendali.”

Loading...