Dibuka Menguat 35 Poin, Laju Rupiah Masih Bisa Terhambat Turunnya Harga Minyak

Penguatan rupiah diramal masih akan berlanjut pada Selasa (3/5) ini karena banyaknya sentimen , termasuk menurunnya indeks AS. Namun, pelaku pasar diminta waspada karena penurunan tajam mentah hingga dini hari tadi bisa menghambat laju rupiah.

Menurut laporan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan dibuka menguat 35 poin atau 0,27% ke posisi Rp13.124 per dolar AS. Kemudian, mata uang Garuda kembali 13 poin atau 0,09% ke level Rp13.147 per dolar AS pada pukul 08.22 WIB. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau turun tipis 0,05% ke level 92,578 setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,01% di level 92,619.

“Perlu diwaspadai harga minyak yang turun tajam semalam yang biasanya juga berefek pada penguatan dolar AS,” jelas Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Namun, turunnya harga minyak juga bisa memicu penurunan imbal hasil global yang cukup signifikan.”

Harga minyak mentah dunia anjlok dalam merespon data produksi minyak mentah Irak yang naik signifikan pada April 2016. Harga minyak jenis Brent terpantau turun 4,6% hingga dini hari tadi.

Pada perdagangan Senin (2/5) kemarin, rupiah mampu ditutup menguat 21 poin atau 0,16% ke Rp13.159 per dolar AS. Mata uang Garuda menguat usai pengumuman April 2016 yang turun ke 3,6% YoY, yang tidak hanya jauh di bawah angka Maret 2016, melainkan juga di bawah ekspektasi Bank Indonesia.

“Selanjutnya, indeks manufaktur yang kembali naik menjauhi batas 50 juga memberikan sentimen positif terhadap prospek pertumbuhan,” sambung Rangga. “Terlebih, menjelang datangnya angka pertumbuhan PDB kuartal I 2016 pada Senin (9/5) mendatang yang diperkirakan masih di kisaran 5% secara YoY.”

Loading...