Dibuka Melemah Tipis, Rupiah Masih Berpotensi Bergerak Positif

RupiahRupiah mengawali perdagangan Senin (14/1) ini dengan melemah tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.053 per dolar AS - www.medcom.id

JAKARTA – , seperti dilansir Index, memang mengawali Senin (14/1) ini dengan melemah tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.053 per dolar . Namun, mata uang Garuda diprediksi masih mampu menjaga tren sepanjang awal pekan. Hal ini sudah terlihat ketika spot berbalik naik 7 poin atau 0,05% ke posisi Rp14.040 per dolar pada pukul 08.20 WIB.

“Alih-alih inflasi, AS justru mengalami deflasi sebesar 0,1% sepanjang bulan Desember kemarin, yang menjadi deflasi pertama dalam sembilan bulan terakhir,” kata ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dikutip Kontan. “Alhasil, pun berpotensi kembali bergerak melemah, yang otomatis membuka peluang penguatan rupiah.”

Sementara itu, direktur Garuda Berjangka, Ibrahim, menuturkan bahwa voting Brexit yang berlangsung Selasa (15/1) waktu setempat membuat pelaku cenderung berhati-hati. Karena itu, menurutnya, mata uang Garuda tampaknya cenderung akan bergerak terbatas. “Rupiah kemungkinan bergulir di kisaran Rp13.990 hingga Rp14.100 per ,” tutur Ibrahim.

Di sisi lain, senior analyst CSA Research, Reza Priyambada, mengatakan bahwa penguatan rupiah yang terjadi pada penutupan perdagangan pekan lalu didorong oleh beberapa sentimen positif dari dalam negeri. Beberapa sentimen tersebut antara lain imbauan kepada BUMN maupun korporat lainnya untuk memanfaatkan pasar Domestik Non-Deliverable Forward (DNDF) dan keyakinan BI bahwa tekanan inflasi sepanjang 2019 dapat diredam.

“Pergerakan dolar AS juga cenderung melemah setelah lebih bersikap melunak terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga mereka, sehingga diharapkan dapat membangkitkan kembali nilai tukar rupiah,” kata Reza. “Meski demikian, pergerakan ke area merah masih membayangi gerak rupiah pada hari ini.”

Saat ini, pasar dalam negeri sedang menantikan rilis neraca perdagangan Indonesia pada bulan Desember 2018. Bank Indonesia memprediksi neraca perdagangan pada akhir tahun kemarin masih akan mengalami defisit, karena masih ada tekanan dari impor barang modal yang cukup tinggi. Sebelumnya, pada bulan November 2018, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar 2,05 miliar dolar AS.

Loading...