Dibuka Melemah Tipis, Rupiah Berharap Sentimen The Fed

Rupiah diprediksi masih mampu melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Selasa (20/9) ini meski dalam rentang yang relatif sempit. Pasalnya, harapan pelonggaran stimulus dari Bank of Japan serta ekspektasi dipertahankannya suku bunga di level yang sekarang dapat terus melemahkan laju indeks dolar AS.

Seperti diwartakan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan tipis 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.156 per dolar AS. Namun, pada pukul 08.43 WIB, spot berbalik menguat 9 poin atau 0,07% ke posisi Rp13.143 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau loyo dengan 0,27 poin atau 0,28% ke 95,841 pada penutupan perdagangan Senin (19/9) waktu setempat.

“Fokus investor masih tertuju pada FOMC meeting serta Bank of Japan meeting,” tutur Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Harapan pelonggaran dari Bank of Japan serta ekspektasi dipertahankannya FFR target di level sekarang bisa terus melemahkan dolar AS meski situasi yang sebaliknya dapat mendongkrak performa the greenback.”

Senada, Kepala Riset NH Securities Indonesia, Reza Priyambada, mengemukakan bahwa investor cenderung berhati-hati terhadap aset risiko mengantisipasi kenaikan suku bunga AS. “Rupiah diperkirakan masih cenderung bergerak . Namun, wajib mengantisipasi pembalikan arah ke pelemahan mata uang ,” terang Reza.

Investor sebagian besar memang memperhatikan pertemuan The Fed pekan ini dan pendapat ekonom terbagi pada apakah Bank of Japan akan meningkatkan stimulus atau tidak. Mereka sekarang melihat hanya 20% probabilitas kenaikan suku bunga acuan, turun lebih dari 40% pada akhir Agustus. Sementara itu, Bank of Japan dan Bank Sentral Eropa sedang mempelajari efektivitas stimulus mereka sendiri.

“Ada kemungkinan volatilitas tetap ada hanya karena sepertinya The Fed akan memberikan kepastian tentang kenaikan suku bunga,” ujar Kepala Strategi Robert W. Baird, Bruce Bittles. “Namun, The Fed diyakini tidak akan menaikkan suku bunga pada pekan ini, tetapi mereka akan cukup agresif dalam mengatakan kenaikan suku bunga yang akan datang.”

Loading...