Dibuka Melemah, Rupiah Tunggu Dukungan Ekspektasi Inflasi Agustus

Meski dibuka di zona merah, namun diharapkan mampu bangkit pada Kamis (1/9) ini. Ekspektasi angka inflasi Agustus 2016 yang rendah dan mulai meredanya sentimen The Fed membuka peluang bagi Garuda untuk membalikkan posisi.

Seperti dilaporkan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan sebesar 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.275 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.39 WIB, spot kembali terdepresiasi tipis 1 poin atau 0,01% ke posisi Rp13.271 per dolar AS. Sementara, indeks dolar AS juga terpantau melemah 0,025 poin atau 0,03% ke level 96,997 saat pembukaan.

“Rupiah berpeluang menguat pada perdagangan hari ini,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Salah satu sentimen bagi pergerakan mata uang Garuda adalah ekspektasi angka inflasi Agustus 2016.”

Selain itu, ditambahkan Rangga, kenaikan drastis uang tebusan tax amnesty dalam beberapa hari terakhir juga berhasil memperbaiki optimisme di pasar keuangan. “Harapan angka inflasi Agustus 2016 yang rendah bakal memberi tambahan sentimen positif,” lanjutnya.

Meski begitu, pelemahan harga minyak yang diikuti dengan lain bisa membatasi ruang penguatan rupiah. Harga minyak mentah memang kembali tajam usai data persediaan minyak mentah AS diumumkan naik melebihi ekspektasi. Namun, data pertambahan swasta yang menunjukkan perlambatan mendorong indeks dolar terkoreksi tipis.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (31/8) kemarin, rupiah terkoreksi tipis 0,02% ke posisi Rp13.260 per dolar AS. Rencana kenaikan The Fed masih menjadi sentimen utama penekanan pergerakan mata uang Garuda.

Loading...