Dibuka Melemah, Jokowi Effect Belum Dirasakan Rupiah

Rupiah - starberita.comRupiah - starberita.com

Rupiah ternyata belum beranjak dari zona merah pada awal Selasa (21/5) ini setelah pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin ditetapkan sebagai pemenang Pemilihan 2019. Menurut paparan Index, mata uang Garuda membuka dengan melemah 8 poin atau 0,06% ke level Rp14.463 per AS.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan rekapitulasi hasil penghitungan suara Pemilihan Presiden 2019 yang menunjukkan pasangan nomor urut 01, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, unggul dari pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dengan persentase 55,50% suara. Pasangan Jokow-Amin unggul dengan selisih suara sebanyak 16.957.123 suara, dari total suara sah mencapai 154.257.601.

“Rupiah masih belum bergerak di level Rp14.000 hingga Rp15.000 setelah hasil rekapitulasi,” ujar Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir Suara. “Pasalnya, masih menantikan reaksi pasangan calon yang kalah, apakah reaksinya akan menerima atau tidak. Meski pengalaman pemilu sebelumnya selalu berakhir dengan baik, tetapi tetap ada kekhawatiran di .”

Hampir senada, laporan CNBC menuturkan bahwa kembalinya Jokowi ke kursi RI-1 memang membuat sebagian pelaku pasar merasa lega. Pasalnya, satu ketidakpastian sudah terhapus. Kebijakan pemerintah dalam lima tahun ke depan kemungkinan tidak ada perubahan yang signifikan, hanya ada penguatan. Jokowi pun bisa fokus membenahi masalah struktural dalam .

“Akan tetapi, sentimen ini belum dirasakan oleh rupiah yang masih bergerak stagnan. Bisa jadi masih memantau dinamika politik usai pengumuman dari KPU,” tulis CNBC Indonesia. “Badan Pemenangan Nasional (BPN) menolak hasil rekapitulasi suara tersebut. Karena itu, aksi massa 22 Mei masih terjadwal dan risiko keamanan masih cukup tinggi, sehingga mungkin menjadi perhatian .”

Sementara itu, dari sentimen global, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, menilai bahwa ketegangan di Timur Tengah dikhawatirkan bisa memengaruhi minyak sehingga rupiah wajar mengalami koreksi pada perdagangan kemarin. Jika tren ini terus berlanjut, berpotensi membuat rupiah melemah lebih dalam.

“Padahal, Indonesia mau tidak mau harus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri karena produksi yang belum juga memadai. Artinya, akan ada tekanan bagi neraca perdagangan dan transaksi berjalan,” kata Ibrahim, dilansir Kontan. “Pada perdagangan hari ini, rupiah akan bergulir di kisaran Rp14.434 hingga Rp14.490 per dolar AS.”

Loading...