Dibuka Melemah, Hari Ini Rupiah Nantikan Data Inflasi

Rupiah - www.validnews.idRupiah - www.validnews.id

Jakarta dibuka melemah 32 poin atau 0,23 persen ke posisi Rp 14.101 per di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (1/3). Kemarin, Kamis (28/2), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 39 poin atau 0,28 persen ke level Rp 14.069 per USD.

Indeks AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat tipis Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS terpantau naik tipis sebesar 0,0022 persen menjadi 96,1550 walaupun data menunjukkan Amerika Serikat lebih baik dari yang diperkirakan menjelang akhir tahun lalu.

Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa ekonomi AS tumbuh 2,6 persen pada kuartal IV 2018. Dengan demikian, sepanjang tahun 2018 ini ekonomi AS telah mengalami pertumbuhan 2,9 persen dan gagal mencapai target di level 3 persen.

Hasil triwulanan pertumbuhan belanja konsumen juga mengalami penurunan jadi 2,8 persen di kuartal keempat, lebih rendah dari kuartal sebelumnya di angka 3,5 persen. Adapun pengeluaran konsumen telah menyumbang sekitar dua pertiga dari ekonomi Amerika Serikat secara keseluruhan.

Di sisi lain, data inflasi Indonesia pada hari ini yang diperkirakan rendah akan berpotensi untuk menahan laju rupiah di pasar spot. Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, pelemahan rupiah ini terjadi lantaran pernyataan Gubernur Jerome Powell pada Rabu (27/2) yang mengatakan bahwa meningkatnya risiko dan pelemahan data ekonomi AS tak akan memiliki dampak yang serius terhadap perekonomian AS. akan tetap sabar dan melakukan langkah wait and see dalam menaikkan suku bunga.

“Selain itu, alotnya perundingan dagang antara AS dan China turut menyumbang pelemahan terhadap rupiah,” jelas Josua, seperti dilansir Kontan. Perwakilan dagang AS Robert Lighthizer menuturkan, China perlu lebih dari sekadar membeli -produk AS sebelum kedua belah pihak mencapai kesepakatan dagang.

Menurut Lighthizer, hal itu masih sangat jauh dari reformasi struktural yang diinginkan oleh Presiden AS Donald Trump, terutama menyangkut praktik China menekan perusahaan AS untuk menyerahkan teknologi berharga demi mengakses pasar yang lebih luas.

“Tadinya ada harapan sebuah nota kesepakatan dapat lahir dari perundingan sudah lama berjalan. Tetap ternyata tidak ada juga, sehingga optimisme perang dagang meredup. Mata uang rupiah dan mata uang Asia lainnya juga melemah,” ungkap Josua.

“Besok (hari ini) AS akan merilis data jobless claim dan PDB. Jika angka jobless claim lebih tinggi maka akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Sementara angka PDB AS ekspetasinya lebih rendah dari kuartal sebelumnya,” sambung Josua.

Bank Indonesia (BI) pun akan merilis data inflasi pada hari ini. “Februari 2019 diprediksi mengalami deflasi dan nilai inflasi tahunan menurun dari angka 2,82% menjadi 2,6%. Ini menjadi harapan penguatan rupiah besok,” tandasnya.

Loading...