Dibuka Melemah 58 Poin, Bukti Rupiah Rentan Terguncang

ECB - European Central Bank

Setelah menguat selama dua hari beruntun, rupiah pada perdagangan Jumat (11/3) ini dibuka 0,44 persen atau 58 poin ke level Rp13.110 per AS. Kemudian, menurut catatan Index pukul 08.48 WIB, rupiah kembali terdepresiasi 0,37 persen atau 48 poin ke level Rp13.100 per dolar AS.

Meski terapresiasi selama beberapa hari terakhir, namun penguatan rupiah dianggap hanya bersifat sementara. Mata uang Garuda dinilai masih sangat rentan terhadap guncangan .

“Penguatan rupiah yang sempat menyentuh angka Rp13.029 per dolar AS berdasarkan kurs BI disebabkan faktor eksternal,” jelas Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Dzulfian Syahrian. “Khususnya perkembangan isu perekonomian terkini di ekonomi terbesar pertama (AS) dan terbesar kedua ().”

Pada perdagangan Kamis (10/3) kemarin, rupiah ditutup menguat 105 poin atau 0,80 persen ke Rp13.052 per dolar AS. Penguatan rupiah ini lantaran rontoknya dolar AS di pasar global.

Jika hasil pertemuan Bank Sentral Eropa () Kamis malam waktu setempat menghasilkan stimulus tambahan di Eropa, dana asing yang masuk ke pasar domestik bakal semakin deras. Namun sayangnya, kebijakan yang memangkas menjadi 0 persen gagal mendongkrak sentimen pasar . “Pasar tidak menyukai beritanya,” papar Head of Investment Strategy Perpetual Ltd, Matthew Sherwood.

Di sisi lain, minyak dunia kembali terkoreksi pada pukul 05.12 WIB. Minyak jenis diperdagangkan melemah 0,71 persen ke 38,02 per dolar AS per barel. Sementara, minyak jenis Brent melemah 2,17 persen ke 40,18 dolar AS per barel.

Loading...