Dibuka Melemah 41 Poin, Rupiah Berharap Dorongan Sentimen Domestik Untuk Bangkit

Harapan yang tinggi atas disahkannya RUU tax amnesty serta yang bakal dirilis dalam waktu dekat diramal bakal mampu menyokong laju pada awal pekan ini (30/5). Namun, pelaku pasar tetap wajib mewaspadai penguatan indeks AS menyusul pernyataan Janet yang hawkish.

Menurut Bloomberg Index, rupiah mengawali dengan dibuka melemah 41 poin atau 0,30% di posisi Rp13.628 per dolar AS. Kemudian, mata uang Garuda kembali 46 poin atau 0,33% ke level Rp13.633 per dolar AS pada pukul 08.20 WIB. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau bergerak menguat sebesar 0,30 poin atau 0,31% ke level 95,819 pada pukul 6.59 WIB.

“Harapan yang tinggi atas disahkannya RUU tax amnesty dalam waktu dekat serta data inflasi yang bakal dirilis Rabu (1/6) bisa menambah optimisme terhadap prospek aset keuangan berdenominasi rupiah,” papar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Tetapi, indeks dolar AS yang kembali menguat menyusul pernyataan Yellen yang hawkish juga berpeluang mengembalikan tekanan pelemahan terhadap rupiah di awal minggu ini.”

Pidato terakhir Yellen menunjukkan niat untuk menaikkan FFR target dalam beberapa bulan ke depan meskipun dengan syarat adanya perbaikan ekonomi AS yang berarti. Di tengah ekspektasi kenaikan FFR target yang memang sudah telanjur naik, pernyataan Gubernur tersebut menambah dorongan penguatan indeks dolar AS cukup signifikan.

“Di sisi lain, imbal hasil US Treasury naik walaupun hanya tipis,” sambung Rangga. “Revisi pertumbuhan AS kuartal I tahun 2016 yang naik juga menambah alasan bagi dolar AS untuk mengembalikan tren penguatan.”

Sementara itu, Kepala Riset NH Securities Indonesia, Reza Priyambada, mengutarakan bahwa adanya pergerakan positif pada laju harga minyak dunia diharapkan bisa kembali memberikan sentimen positif terhadap rupiah. “Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.585 hingga Rp13.570 per dolar AS,” papar Reza.

Loading...