Dibuka Melemah 38 Poin, Rupiah Menanti Dorongan Harga Minyak

diprediksi masih rentan mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (4/8) ini akibat aksi profit taking di . Namun, mata uang Garuda juga berpeluang membalikkan keadaan ketika mengantisipasi data ekonomi terbaru dari AS serta kembali naiknya .

Dilaporkan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan sebesar 38 poin atau 0,29% di posisi Rp13.159 per . Kemudian, pada pukul 08.28 WIB, mata uang Garuda kembali 23 poin atau 0,18% ke level Rp13.144 per AS.

“Pelemahan rupiah terjadi karena aksi profit taking di pasar setelah mata uang Garuda dalam beberapa hari terakhir,” jelas Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. “Namun, kesempatan untuk rebound datang ketika pasar mengantisipasi data ekonomi terbaru dari AS.”

Pada pagi ini, indeks dolar AS memang dibuka turun tipis 0,018 poin atau 0,02% di posisi 95,545 setelah sebelumnya sempat rebound imbas data tenaga kerja AS yang berada di atas perkiraan. Menurut data payroll yang dirilis institusi ADP Research Institute kemarin, angka kepegawaian oleh pada bulan Juli naik sebesar 179.000 dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain itu, pergerakan mata uang Garuda juga berharap dorongan dari kembali naiknya harga minyak dunia. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September menguat 3,3% ke level 40,83 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara, minyak Brent untuk kontrak Oktober juga naik 3,1% ke 43,10 dolar AS per barel di ICE Futures Europe Exchange.

“Sementara dari internal, pasar menunggu angka cadangan devisa Indonesia,” sambung Josua. “Rupiah hari ini kemungkinan bergerak di kisaran Rp13.080 hingga Rp13.180 per dolar AS.”

Loading...