Dibuka di Zona Hijau, Sentimen The Fed Masih Ancam Rupiah

Meski mampu dibuka menguat, namun pergerakan rupiah sepanjang (30/8) masih belum bisa terlepas dari tekanan, terutama yang datang dari spekulasi kenaikan pada mendatang. Karena itu, mata Garuda diprediksi masih akan melemah sepanjang perdagangan hari ini.

Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali perdagangan pagi ini dengan penguatan sebesar 18 poin atau 0,14% ke level Rp13.249 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.41 WIB, mata uang Garuda berbalik terdepresiasi tipis 5 poin atau 0,04% ke posisi Rp13.272 per dolar AS. Sementara, dolar AS juga terpantau melemah 0,039 poin atau 0,04% ke level 95,541 pada awal dagang.

“Tekanan pelemahan rupiah masih berpeluang bertahan meski dalam derajat yang lebih tipis,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Pasalnya, spekulasi kenaikan FFR target pada FOMC meeting di akhir September mendatang masih bertahan.”

Meski begitu, ditambahkan Rangga, penguatan rupiah bisa kembali jika ekonomi AS gagal mengonfirmasi pernyataan Gubernur The Fed, Janet . “Sementara dari dalam negeri, risiko , termasuk pencapaian tax amnesty, masih menjadi halangan utama terhadap optimisme ,” sambungnya.

Senada, Ekonom BCA, David Sumual, mengatakan bahwa performa mata uang Garuda lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal setelah akhir pekan lalu Yellen mengindikasikan suku bunga The Fed bakal segera naik. Selain itu, pasar juga sedang menunggu angka inflasi dalam negeri pada awal September. “Rupiah kemungkinan melemah di kisaran Rp13.250 hingga Rp13.350 per dolar AS,” kata David.

Loading...