Dibayangi PSBB Ketat, Rupiah Ditutup Melemah 0,11%

Rupiah - www.beritasatu.comRupiah - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki tenaga untuk bangkit ke zona hijau pada Kamis (7/1) sore dibayangi kebijakan yang bakal menerapkan PSBB ketat untuk Pulau Jawa dan Bali mulai pekan depan. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.910 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menempatkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp13.938 per dolar AS, terdepresiasi 12 poin atau 0,08% dari transaksi sebelumnya di level Rp13.926 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, hampir seluruh mata uang Asia tidak berdaya melawan , menyisakan yuan di zona hijau.

Kemarin, pemerintah memutuskan untuk menerapkan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) untuk menekan penyebaran COVID-19 di seluruh provinsi di Pulau Jawa dan Bali, yang berlaku mulai 11 Januari hingga 25 Januari 2021. Pembatasan kegiatan masyarakat ini antara lain membatasi tempat kerja dengan WFH 75%, belajar dilakukan secara daring, serta pembatasan jam operasional pusat perbelanjaan hingga jam operasi moda transportasi.

Menurut analisis CNBC Indonesia, sepertinya sedang mengalihkan fokus ke AS. Pada pukul 09.24 WIB, imbal hasil (yield) pemerintah AS tenor 10 tahun berada di 1,049%, yang tertinggi sejak Maret 2020. Ini menyusul notulen Federal Reserve yang mengisyaratkan suku bunga acuan tetap rendah, yang berimbas pada aksi jual pemerintah AS, membuat yield terkerek.

Dari pasar global, indeks dolar AS merana di dekat level terendah dalam hampir tiga tahun pada hari Kamis setelah Partai Demokrat memenangkan kendali Senat AS, membuka jalan untuk stimulus fiskal yang lebih besar di bawah presiden terpilih Joe Biden. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,100 poin atau 0,11% ke level 89,430 pada pukul 10.42 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, pasar mata uang sebagian besar tidak terganggu oleh kekacauan di Washington ketika pendukung Donald Trump menyerbu Capitol Hill. Analis umumnya berasumsi Senat yang dikendalikan Partai Demokrat akan menjadi positif untuk pertumbuhan ekonomi secara global, dan dengan demikian untuk sebagian besar aset berisiko, tetapi negatif untuk obligasi dan greenback karena anggaran AS dan defisit perdagangan dapat semakin melebar.

“Dolar turun karena Demokrat mengendalikan kedua dewan,” papar kepala strategi mata uang di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto. “Dolar AS akan tetap melemah terhadap mata uang komoditas dan mata uang pasar berkembang. Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury yang lebih tinggi akan menguntungkan dolar AS terhadap euro dan yen.”

Loading...