Dibayangi Kenaikan Suku Bunga The Fed, Rupiah Anjlok ke Level Rp 14.620/USD

Rupiah - inal knRupiah - inal kn

Jakarta dibuka melemah sebesar 46 poin atau 0,32 persen ke posisi Rp 14.620 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (23/8). Pada sebelum libur Hari Raya Idul Adha, Selasa (21/8), kurs rupiah terpantau menguat 14 poin atau 0,10 persen menjadi Rp 14.574 per USD di akhir dagang.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah utama dilaporkan melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS melemah 0,11 persen menjadi 95,1447 pada pukul 15.00 waktu setempat (20.00 GMT) di tengah sentimen ekspektasi kenaikan lanjutan oleh .

dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan berikutnya dalam pertemuan yang dilangsungkan pada 31 Juli sampai 1 Agustus, berdasarkan risalah pertemuan terakhir yang dilaporkan pada Rabu (22/8) kemarin.

Dalam risalah itu disebutkan bahwa anggota Komite Terbuka Federal (FOMC) sepakat untuk memperbarui karakterisasi ekspektasi mereka untuk evolusi tingkat suku bunga Federal Fund Rate dalam pernyataan pasca-pertemuannya, untuk menunjukkan kenaikan bertahap lebih lanjut sambil mempertahankan kisaran target pada pertemuan kala itu.

Di sisi lain, rupiah berhasil menguat dalam perdagangan sebelumnya dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan ketidakpuasannya terhadap kebijakan yang diambil oleh Federal Reserve. Menurut ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, rupiah menguat usai indeks dolar AS melemah. “Ini dipicu oleh pernyataan Trump yang berharap The Fed tidak menaikkan suku bunga lagi dan menganggap penguatan dollar sekarang akan merugikan AS,” paparnya, seperti dilansir Kontan.

Namun analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta memprediksi jika hari ini rupiah akan cenderung melemah karena dipengaruhi oleh krisis ekonomi yang melanda Turki. “Secara perspektif teknikal, terlihat pola bullish harami candlestick pattern pada USDIDR H4 chart yang mengindikasikan adanya potensi depresiasi bagi rupiah terhadap dolar AS,” ujar Nafan, seperti dilansir Bisnis.

Selain krisis ekonomi Turki yang berkelanjutan, rupiah juga tertekan oleh sentimen notulensi rapat FOMC yang menegaskan jika The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya dengan pertimbangan bahwa outlook ekonomi AS sudah positif. Para pelaku pasar pun telah mengantisipasi kenaikan suku bunga AS pada September dan Desember 2018.

Loading...