Dianggap Miliki Masa Pakai Yang Lama, Harga Lampu LED Philips 20 Watt Sekitar Rp 200 Ribuan

lampu, LED, merek, Philips, panel, 20, watt, harga, sekitar, Rp 205.000, jenis, cocok, butik, rumah, makan, di, pasaran, listrik, permintaan, impor, SNI, produk, lokal, domestik, mutu, kualitas, keunggulan, warna, masa, pakai, lamaLightbulb, lampu led kecil dengan daya besar

Suatu bangunan atau ruangan, baik di perkantoran, rumah, pertokoan, atau di manapun, akan membutuhkan yaitu lampu. Contohnya di rumah, salah satu jenis lampu yang biasa digunakan adalah lampu (Light Emitting Diode).  

Lampu LED sudah banyak tersedia di . Salah satu yang terkenal adalah Philips. Lampu LED Philips menggabungkan cahaya putih dengan masa pakai yang terbilang cukup panjang. Jenis lampu tersebut dinilai memberikan penghematan energi yang signifikan.

Mengapa lampu LED Philips? Lampu LED dianggap mampu menciptakan kualitas cahaya yang cukup baik untuk setiap suasana, mulai dari cahaya lampu untuk malam yang santai hingga cahaya cerah untuk menerangi objek khusus. Lampu LED dinilai cocok untuk kamar tidur, dapur, atau ruang tamu. Cahaya dari lampu LED dianggap memiliki indeks renderasi tinggi sehingga memastikan Anda bahwa objek yang dilihat adalah yang sebenarnya.

Dari sekian banyak pilihan lampu LED dengan merek Philips, Anda bisa menemukan satu jenis ini, yaitu Philips LED Panel 20 watt. Lampu tersebut dianggap memiliki keunggulan, yaitu masa pakai yang lama (lebih dari 40.000 jam), dan sinar lampunya lebih terang.

Lampu tersebut dianggap cocok untuk digunakan sebagai alat penerangan di butik, gedung bertingkat, function hall, rumah makan, rumah tinggal, dan lainnya. Untuk harganya sendiri sekitar Rp 205.000.

Di Indonesia, lampu LED sedang menunggu adanya penerapan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI). Penerapan SNI dianggap dapat menurunkan volume impor lampu jenis tersebut. Ketua Umum Asosiasi Perlampuan Indonesia, John Manoppo menyatakan bahwa lampu LED impor berkualitas rendah bisa semakin membanjiri pasar domestik dengan harga yang jauh lebih .

Ia mengatakan bahwa penerapan SNI bukan hanya untuk melindungi industri, tapi juga untuk kepentingan konsumen. “Itu mengapa akhirnya respons pasar menjadi setback. Bukannya menggunakan LED, tapi larinya malah ke penggunaan produk lampu hemat energi,” ujarnya.

Sebagai gambaran, permintaan produk lampu sekitar 300 juta unit. Sejumlah 220 juta unit merupakan permintaan untuk produk lampu hemat energi. Sementara sisanya, merupakan permintaan domestik lampu LED. Sebanyak 80 persen dari permintaan kedua jenis produk tersebut masih dipenuhi oleh produk impor.

“Kecenderungannya itu sekarang produk LED yang beredar low quality. Sementara LHE sudah mengarah ke high end product karena sudah ada SNI dan bebas bea masuk,” ujar John.

Tidak adanya regulasi standar mutu terhadap lampu LED dianggap bisa mengancam pasar domestik. Hal itu dikarenakan bukan tidak mungkin pabrik asal domestik tergerus produk LED impor murah dengan kualitas yang tidak cukup baik.

Volume impor lampu LED pada semester pertama tahun lalu mencapai 40 juta unit. Sementara itu, produk lokal hanya mencapai 8 juta unit. Kenaikan permintaan produk lampu dinilai tergantung terhadap pertumbuhkan pasokan listrik di Indonesia.

“Permintaan itu sangat bergantung juga dengan proyek listrik. Kalau pertumbuhan pasokan listrik tidak terlalu agresif artinya pasarnya enggak berkembang pesat. Mungkin kenaikan permintaan tahun ini berkisar pertumbuhan ekonomi, tidak mungkin sampai dua digit,” tambah John.

Loading...