Diabaikan Israel, Nasib Pengungsi Suriah di Dataran Tinggi Golan Kian Suram

Pengungsi Suriah - tabloidpewarna.comPengungsi Suriah - tabloidpewarna.com

Nasib puluhan ribu pengungsi Suriah di Dataran Tinggi Golan kini tengah terapung-apung. Tidak mau dan tidak bisa masuk ke , takut akan pembalasan karena berkolaborasi dengan musuh, para pengungsi menghadapi sisa pilihan yang sama suram. Berbanding terbalik dengan orang-orang yang berduyun-duyun datang ke yang disengketakan untuk ‘wisata perang’ yang hanya beberapa kilometer jauhnya.

Dilansir dari TRT World, saat ini, ada sekitar 100.000 pengungsi internal Suriah di daerah Golan di sebelah wilayah yang dicaplok Israel, menurut situasi terbaru dari PBB, yang menegaskan bahwa organisasi bantuan di Damaskus belum diberikan izin untuk mengunjungi penduduk di sana. Akibatnya, ada yang tidak terpenuhi yang terus meningkat pada skala dramatis.

Israel merebut dua pertiga Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam Perang Enam Hari di tahun 1967, menghancurkan rumah-rumah dan memisahkan teman-teman dan keluarga. Sejak 1974, pasukan PBB telah berpatroli di zona penyangga untuk menjaga ketenangan antara dua negara musuh. Israel kemudian mencaplok Golan dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.

Dua minggu yang lalu, orang-orang Suriah yang memprotes di dekat pagar perbatasan dikembalikan oleh IDF, sekaligus menghancurkan semua harapan bahwa Israel akan membawa mereka masuk sebagai pengungsi. Lebih dari 280 sipil telah tewas sejak kampanye untuk merebut kembali Suriah barat daya dari oposisi yang dimulai pada pertengahan Juni, menurut laporan baru dari Syrian Network for Human Rights.

“Mereka menuntut agar area aman disediakan bagi orang-orang dengan pemboman, rezim, atau faksi lainnya tidak dapat membahayakan mereka,” kata seorang warga bernama Selma Mohammed kepada TRT World tiga hari setelah meninggalkan wilayah perbatasan Golan. “Untuk sesaat, kami berharap bahwa mereka (Israel) akan memberi kami jalan yang aman. Tetapi sayangnya, itu tidak mungkin.”

Sebenarnya, selama lebih dari dua tahun, Israel telah menyediakan bantuan lintas batas dan perawatan medis di rumah sakit untuk warga Suriah, dalam sebuah yang dijuluki ‘Operation Good Neighbor’. Angkatan Darat Israel menyediakan lebih dari 13 ton , tiga palet obat, dan 30 ton pakaian untuk warga Suriah yang berlindung di sebelah wilayah yang mereka tempati. Para analis menuturkan bahwa bantuan kemanusiaan Israel membuat beberapa warga Suriah percaya bahwa mereka akan ditawarkan tempat perlindungan.

“Sorotan seputar ‘Operation Good Neighbor’ berkontribusi terhadap harapan yang tidak realistis di kalangan warga Suriah yang tinggal di selatan mengenai perlindungan mereka dari rezim Assad,” kata Elizabeth Tsurkov, seorang rekan peneliti pada Forum for Regional Thinking yang mengkhususkan diri di Suriah. “Pelaporan oleh outlet pro-rezim tentang ‘zona aman’ Israel, yang tidak pernah benar-benar terwujud, juga berkontribusi pada keyakinan bahwa wilayah mereka akan terhindar dari serangan pasukan rezim.”

Ada penduduk Suriah yang terpisah di wilayah itu, yang tetap tinggal setelah Israel merebut Dataran Tinggi Golan pada tahun 1967. Jumlah penduduk sekitar 25.000 orang, yang terpisah dari kerabat mereka di Suriah, sejak itu dibatasi di empat desa di wilayah yang diduduki Israel. Mereka hidup di bawah apa yang kadang-kadang dijuluki ‘pendudukan yang terlupakan’, dalam kondisi yang semakin buruk.

Seperti halnya populasi di Tepi Barat, orang-orang Suriah di Golan juga hidup dalam bayang-bayang pangkalan militer di atas bukit dan pemukiman ilegal, juga menderita akibat pembatasan penggunaan dan penghancuran harta. “Saya pikir bahwa periode yang relatif tenang yang dijalani saat ini tidak akan selamanya,” kata Wael Tarabieh, seorang manajer program di Al Marsad dari Majdal Shams.

Dataran Tinggi Golan yang diduduki tidak hanya penting secara strategis, tetapi juga kaya sumber daya. Tanahnya subur dan sumber airnya melimpah. Dewan turis Israel menjual gambar yang sepenuhnya akurat dari lanskap indah yang dipenuhi dengan air terjun dan jalur hiking. Tanda-tanda wisata bermunculan setiap beberapa ratus meter di sepanjang jalan gunung yang berkelok-kelok.

Karena itu, meski merupakan daerah konflik, wisatawan tetap membanjiri Dataran Tinggi Golan, yang menawarkan pengunjung ‘wisata perang’ yang aneh. Pada titik pengamatan di puncak Gunung Bental, pengunjung tidak hanya belajar tentang konflik sejarah, tetapi juga menyaksikan konflik aktif di Suriah. Sekelompok tentara Israel yang membawa senapan menerima penjelasan, sedangkan tenda perumahan pengungsi Suriah di sisi lain dari zona penyangga PBB tidak berlokasi jauh.

Loading...