Di Tengah Anjloknya Harga Garam di Tingkat Petani, Garam Dolphin 1 Kg Dibanderol Rp 12 Ribuan

Harga Garam - www.beopportunistic.comHarga Garam - www.beopportunistic.com

Sebagai salah satu kebutuhan pokok di , garam biasanya sangat dipengaruhi pada hasil dan pasokan yang tersedia di pasaran. Namun belakangan ini karena sedang memasuki masa dan melimpah, harga garam di tingkat dikabarkan anjlok. Sementara itu untuk harga garam-garam bermerek seperti Dolphin justru terpantau stabil.

Harga garam Dolphin yang diproduksi oleh PT Susanti Megah saat ini bervariasi, berkisar antara Rp 12.500 hingga Rp 13.500 per bungkus. Sedangkan harga garam merk Dolphin 1 kg per dus isi 12 pcs sekitar Rp 117 ribuan hingga Rp 131 ribuan di pasaran.

Di sisi lain, menurut petani garam rakyat asal Eretan, Kecamatan Kandanghaur, Sutarno, harga garam saat ini berada pada kisaran Rp 800-900 per kilogram. Padahal ketika awal musim panen masih dibanderol Rp 1.300-1.500 per kilo. “Harganya sekarang lagi turun terus,” kata Sutarno, seperti dilansir Radar Indramayu.

Lebih lanjut Sutarno menjelaskan jika produksi garam rakyat memang sedang melimpah, sehingga tak lagi dijual dalam hitungan kilogram, melainkan dijual per karung. “Kemarin masih Rp 80 ribu, sekarang ditawar Rp 50 ribu sekarung. Kalau lagi mahal bisa tembus Rp 150 ribu per karung,” ucapnya.

Petani garam lain bernama Amin juga sependapat bahwa harga garam sekarang sedang anjlok karena semakin banyak garam yang masuk masa panen raya. Amin memperkirakan harga garam di tingkat petani bisa lebih anjlok lagi. “Sudah siklusnya seperti itu, produksi melimpah harga turun,” tuturnya.

Hal yang sama rupanya juga terjadi di Probolinggo. Produksi garam yang melimpah membuat harga jual garam dengan kualitas bagus berada pada kisaran Rp 1.000 saja. “Kondisi ini (anjlok) sudah terjadi mulai sebulan lalu,” ungkap ketua kelompok Petambak Garam Sejahtera Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Suparyono, Sabtu (8/9/2018).

Yang lebih miris lagi, petani garam di Probolinggo mengaku tak dapat mengirim hasil produksinya ke pabrik pengolahan garam di Pasuruan lantaran pabrik tersebut telah menerima banyak pasokan dari Madura. “Jadi, garam kita dikembalikan dan harus dikirim lagi ke pabrik pengolahan garam di Jember,” bebernya.

Suparyono menuturkan jika kondisi cuaca saat ini memang sangat mendukung untuk panen garam. Pasalnya cuaca di sejumlah daerah, termasuk Probolinggo sedang panas, sehingga cocok untuk proses kristalisasi garam.

Loading...