Desember Inflasi 0,45%, Rupiah Berakhir Menguat 155 Poin

Rupiah berakhir menguat pada perdagangan Senin (4/1) sore - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – Rupiah mampu tampil trengginas sepanjang Senin (4/1) ini, didukung data indeks konsumen (IHK) dalam negeri bulan 2020 yang kembali mengalami inflasi serta melorotnya nilai tukar . Menurut laporan Index pukul 14.57 WIB, mata uang Garuda berakhir 155 poin atau 1,1% ke level Rp13.895 per dolar AS.

Sementara itu, data yang dirilis Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menempatkan kurs tengah berada di posisi Rp13.903 per dolar AS, menguat 202 poin atau 1,43% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.105 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang sanggup mengangkangi greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 1,21% menghampiri rupiah.

Pagi tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan IHK Indonesia bulan Desember 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,45% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month), sekaligus inflasi tiga bulan beruntun setelah ditekan pandemi -19. Itu berarti, sepanjang tahun kalender 2020, laju inflasi sudah mencapai 1,68%.

“Inflasi bulanan terus meningkat sejak Oktober 2020, begitu juga tingkat inflasi tahunan,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto, dalam konferensi pers virtual. “Inflasi bulan Desember 2020 banyak dipengaruhi naiknya harga sejumlah komoditas, seperti cabai merah, telur ayam ras, dan cabai rawit, serta tarif angkutan udara.”

Dari global, dolar AS memulai tahun baru dengan melempem ketika investor memperhitungkan suku bunga AS yang rendah dan pada akhirnya pemulihan dunia dari pandemi akan membuatnya lajunya terhadap mata uang utama lainnya terhitung lamban. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,214 poin atau 0,24% ke level 89,723 pada pukul 11.23 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, investor mengawasi pemilihan putaran kedua hari Selasa (5/1) di negara bagian Georgia, yang akan menentukan kendali Senat dan nasib agenda presiden terpilih . Para pemilih belum memilih senator Demokrat di Georgia dalam 20 tahun dan jika salah satu atau kedua petahana Partai Republik menang, mereka akan mempertahankan mayoritas Senat.

Sapuan Partai Demokrat dapat memicu pelemahan greenback lebih lanjut, karena investor berasumsi itu akan menyebabkan pengeluaran stimulus yang lebih tinggi, yang pada gilirannya akan meningkatkan sentimen pasar dan membebani dolar AS. Dolar AS sendiri membukukan kerugian tahunan terbesar sejak 2017 tahun setelah kepanikan bulan Maret 2020 perlahan mereda.

Loading...