Daya Beli Berkurang, Buruh Minta PP No. 78 tahun 2015 Dicabut

Jakarta – Para buruh kembali menggelar demo di depan Istana , kemarin (6/2). Dalam acara demo yang menuntut pencabutan PP No.78 Th. tentang pengupahan tersebut, diikuti oleh sekitar 10.000 buruh yang tergabung dalam FSPMI (Federal Serikat Pekerja Metal Indonesia) dan KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia). Aksi demo kali ini digelar bersamaan dengan hari jadi FSPMI yang ke-17.

“Hari ini, kami anggota buruh mewakili FSPMI dan KSPI berdemo di Istana Negara sebagai simbol tempat berkantor dan melakukan tugas kenegaraan. Kami ingin menyuarakan aspirasi kami,” ujar Said Aqil, Ketua KSPI di depan Istana Negara, Jakarta, Sabtu (6/2).

Said menjelaskan, posisi para buruh semakin terpojok dengan adanya PP No. 78 tahun 2015 karena dianggap menjadi pemicu PHK besar-besaran di Indonesia.

“Kami meminta cabut PP No. 78 tahun 2015. Tadinya diharapkan PP ini untuk mencegah PHK karena kenaikan upah terlalu tinggi. Faktanya, hari ini, terjadi PHK besar-besaran di Indonesia,” ungkap Said.

PT adalah salah satu perusahaan yang baru-baru ini melakukan PHK besar-besaran akibat penutupan salah satu perusahaannya di . Terkait hal tersebut, Said sudah lebih dulu mengkonfirmasi pada pimpinan PT Toshiba sendiri.

“Kami bertanya pada pimpinan perusahaan Toshiba apakah tutupnya perusahaan karena kenaikan upah, mereka mengatakan tidak. Tetapi daya beli yang , daya (beli) turun,” jelasnya.

Said menilai, turunnya daya beli masyarakat dipengaruhi oleh rendahnya pengupahan pada buruh. Oleh karena itu, pihaknya mendesak agar memperhatikan nasib buruh yang mengalami PHK.

“Pemeritah jangan bermain-main dengan retorika. Dan kami mendesak pemerintah mengambil langkah-langkah tepat,” serunya.

Saat ini, aksi unjuk rasa telah bergeser ke Sport Mall Kelapa Gading untuk menghadiri Kongres ke V Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), dan juga merayakan ulang tahun yang ke-17 dari perserikatan buruh itu.

Selain PT TOSHIBA, disebutkan ada beberapa perusahaan lain yang telah dan akan menutup perusahaannya di Indonesia, diantaranya PT Panasonic, PT Shamoin, PT Starlink, PT Jaba Garmindo, PT Ford Indonesia, PT Yamaha, PT , PT ASA Elektronik, PT. Shinkei, dan PT Hino.

Loading...