Daun & Bambu, Cara Negara Asia Kurangi Penggunaan Plastik

Makanan Berbungkus Daun - sahabatdapur.comMakanan Berbungkus Daun - sahabatdapur.com

BANGKOK – Perangkat yang terbuat dari bahan plastik, sebagai salah satu dari Barat, bisa dikatakan banyak digunakan di banyak negara di . Tetapi, alat-alat ini sekarang menjadi salah satu yang paling mengganggu. Untuk menanggulangi masalah plastik ini, teknologi baru diaplikasikan, sedangkan yang lain memanfaatkan cara yang lebih , termasuk menggunakan daun dan bambu.

“Kami mendorong untuk menghindari penggunaan kantong plastik, dan kami membuat sumbangan amal sebesar 0,5 baht setiap kali mereka melakukannya,” tutur Phairoj Phatsorpinyosakul yang menjalakan jaringan Rimping Supermarket di sekitar Chiang Mai, dilansir Nikkei. “Kantong plastik dan wadah kami untuk laut dan produk daging semuanya 100% biodegradable.”

Sementara itu, di India, para entrepreneur datang ke kantor dengan alat makan dan tas ‘plastik’ yang bisa dimakan. Di kantornya di Bangalore, Ashwath Hegde, pekerja berusia 25 tahun, makan tas yang terbuat dari tepung tapioka dan sayuran. Bahannya juga diklaim bisa dibakar dengan aman dan larut dalam air panas.

Perusahaan multinasional besar juga turut mengurangi penggunaan plastik. Bulan Juni lalu, KFC Singapore mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi menyediakan sedotan sebagai bagian dari ‘Inisiatif Tanpa Sedotan’. Sementara, IKEA berencana menghapus plastik berbasis minyak dari 363 toko furniture dan restoran di seluruh dunia pada tahun 2020. Banyak produk pengganti akan bersumber dari Asia, dan sedotan bambu yang dapat digunakan kembali siap untuk menyapu .

Di Kamboja, sebuah konsorsium berbasis industri perhotelan meluncurkan kampanye ‘RefillNotLandfill’ pada tahun 2015 untuk mempromosikan penggunaan botol air minum dari logam dan merek lainnya. Proyek ini telah tersebar di seluruh dan melibatkan hampir 700 stasiun isi ulang di pusat-pusat pariwisata. Di negara tersebut, sekitar 110.000 botol telah terjual hingga saat ini.

Untuk ramah lingkungan dan bebas plastik, masih sulit mengalahkan makan makanan dengan tangan dari daun pisang. Makanan di Asia masih banyak yang dijual dengan bungkus daun dan bambu. Wadah berbahan logam tiffin, atau dabbas, masih banyak digunakan untuk membawa seluruh makanan di India, Indonesia, Malaysia, Timur Tengah, Myanmar, Thailand, dan Singapura. Di Jepang, kotak bento, yang dapat digunakan kembali, dengan mudah mengalahkan kemasan makan siang Barat seperti Tupperware.

Beberapa perusahaan memberdayakan pelanggan mereka dengan cara yang paling sederhana. Foodpanda, sebuah perusahaan pengiriman makanan di Thailand yang bermitra dengan lebih dari 100 restoran, merayakan ‘Hari Lingkungan Hidup Sedunia’ pada tanggal 5 Juni dengan memberikan pada alat-alat makan plastik. “Kebanyakan orang menikmati makanan di rumah atau kantor ketika alat makan sudah tersedia, yang berarti yang plastik segera dibuang,” kata Bonnie Sananvatananont, yang mengawasi inisiatif itu.

Para pendukung percaya bahwa setiap inisiatif kecil membantu dalam usaha perang melawan plastik. Pada bulan Februari lalu, Gereja Inggris mendorong para jamaah untuk ‘menyerahkan plastik sekali pakai guna mengurangi tindakan yang merusak penciptaan Tuhan’ saat mendekati pra-Paskah. Sementara, di bulan Juni, dua organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, mendukung kampanye untuk mengurangi sampah plastik sebagai ‘sejalan dengan nilai-nilai Islam’.

Loading...