Data Tenaga Kerja AS Lesu, Rupiah Melambung 24 Poin di Awal Pekan

rupiah menguat

mampu bergerak positif pada perdagangan awal pekan (5/6) ini memanfaatkan tenaga kerja AS yang . Seperti dilaporkan Bloomberg Index, Garuda mengawali transaksi hari ini dengan menguat 24 poin atau 0,18% ke level Rp13.291 per . Kemudian, pada pukul 08.25 WIB, spot kembali melonjak 29 poin atau 0,22% ke posisi Rp13.286 per .

Pada akhir pekan kemarin, data non-farm payroll Paman Sam dilaporkan turun drastis menjadi 138.000 pekerja di bulan Mei, setelah sebelumnya mencapai angka 174.000 pekerja di bulan April 2017. Angka ini juga jauh di bawah perkiraan ekonom yang memprediksi 181.000 pekerja. Sementara, peningkatan per jam stabil di level 0,2%. Adapun tingkat pengangguran di Paman Sam pada bulan Mei, turun tipis menjadi 4,3% dari bulan sebelumnya yang sebesar 4,4%.

Kendati data upah dan pengangguran menunjukkan kenaikan, namun lebih menyoroti buruknya data non-farm payroll AS. “Data tenaga kerja menjadi salah satu sentimen yang ditunggu karena menjadi acuan Federal Reserve dalam meningkatkan suku bunga,” ujar Analis PT Asia Trade Point Futures, Deddy Yusuf Siregar.

Buruknya data tenaga kerja AS ini langsung membuat pergerakan the greenback loyo. Pada akhir pekan kemarin, mata uang Paman Sam tersebut harus ditutup melemah 0,483 poin atau 0,50% ke level 96,715, sekaligus menjadi posisi terendah sejak tanggal 7 Oktober yang berada di level 96,632. Berbanding terbalik, gold spot justru naik 13,21 poin atau 1,04% menjadi 1.279,17 AS per troy ounce.

“Indeks dolar AS kembali terpuruk bersamaan dengan turunnya imbal hasil UST merespons buruknya serapan tenaga kerja AS di Mei 2017,” timpal Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Meski peluang kenaikan FFR target pada pekan depan masih tinggi, namun imbal hasil UST yang terus melemah menandakan pasar yang semakin pesimistis.”

Loading...