Data Ritel AS Membaik, Rupiah Melempem di Awal Pekan

Meski sempat berada di pada akhir pekan lalu, pada perdagangan awal pekan (17/10) ini diprediksi masih rentan mengalami koreksi. Pasalnya, sinyal kenaikan The Fed yang masih tetap hangat plus AS yang dirilis pekan lalu yang berada di angka disebut dapat membatasi penguatan rupiah.

Seperti dilaporkan Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pelemahan sebesar 26 poin atau 0,20% ke level Rp13.059 per AS. Kemudian, pada pukul 08.30 WIB, spot kembali terdepresiasi 31 poin atau 0,24% ke posisi Rp13.064 per AS. Sementara itu, indeks AS terpantau menguat 0,098 poin atau 0,10% ke level 98,117 pada pukul 06.09 WIB.

Menurut Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, euforia tax amnesty memang masih mampu menopang rupiah, di samping optimisme pasar usai pelantikan Menteri dan Wakil Menteri ESDM yang baru. “Namun, data ekonomi AS yang positif pada akhir pekan lalu dapat membatasi penguatan Garuda,” katanya.

Peningkatan tajam dalam penjualan ritel AS dalam tiga bulan terakhir membantu meningkatkan sentimen pasar pada Jumat pekan lalu, bersamaan dengan pendapatan bank yang lebih baik dari perkiraan. Ekonomi AS yang makin membaik ini diyakini dapat menjadi sentimen yang cukup kuat untuk menopang kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun.

Meski begitu, ditambahkan Research and Analyst Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto, fundamental domestik yang positif diharapkan dapat mengurangi tekanan dari pasar akibat isu kenaikan suku bunga The Fed. Pasar juga optimistis menanti rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada pekan ini.

Andri pun memprediksi rupiah bakal bergerak di kisaran Rp12.980 hingga Rp13.200 per dolar AS dengan kecenderungan melemah. Sementara, Josua menebak mata uang Garuda bakal berada di rentang Rp12.975 hingga Rp13.075 per dolar AS.

Loading...